Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil

Sektor Jasa Keuangan Tetap Stabil
FOTO: IST//KONFERENSI. Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers via zoom, Selasa (4/8/2026). OJK menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu eskalasi konflik geopolitik.
banner 468x60

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang dipicu eskalasi konflik geopolitik, tekanan inflasi, dan dinamika perdagangan internasional. Kondisi tersebut didukung oleh bauran kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai memadai.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan penilaian tersebut merupakan hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK yang digelar pada 29 Juli 2026. Menurutnya, sektor jasa keuangan Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah berbagai tantangan global.

“Stabilitas sektor jasa keuangan tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global, didukung oleh sinergi kebijakan fiskal dan moneter yang memadai,” kata Friderica dalam konferensi pers via zoom, Selasa (4/8/2026).

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah gagalnya gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran pada awal Juli 2026. Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia dan meningkatkan premi risiko di pasar global.

Di sisi lain, Dana Moneter Internasional (IMF) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 menjadi 3% dari sebelumnya 3,1% pada proyeksi April 2026.

Revisi tersebut dipengaruhi dampak perang yang berkepanjangan, meski perkembangan investasi di bidang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih menjadi faktor yang berpotensi menopang pertumbuhan ekonomi global.

Selain itu, Amerika Serikat memberlakukan kebijakan tarif baru terhadap 60 negara mitra dagang sebagai pengganti tarif sementara yang berakhir pada 24 Juli 2026. Kenaikan tekanan di pasar energi global serta penerapan tarif baru diperkirakan membuat premi risiko global tetap tinggi dan volatilitas harga komoditas masih berlanjut.

Friderica mengatakan, indikator perekonomian global masih menunjukkan divergensi. Aktivitas manufaktur di negara maju mengalami perbaikan yang lebih kuat, sementara pertumbuhan manufaktur di negara berkembang relatif lebih terbatas. Di Amerika Serikat, inflasi terus termoderasi dengan aktivitas ekonomi yang tetap stabil.

Sementara itu, Tiongkok mencatat pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 pada level terendah sejak akhir 2022 akibat lemahnya konsumsi dan investasi swasta, meski ekspor masih menjadi penopang utama.

Adapun di Eropa dan Inggris, inflasi juga menunjukkan tren penurunan. Di pasar keuangan global, pergerakan masih berlangsung bervariasi seiring meningkatnya kembali konflik di Timur Tengah. Arus keluar dana investor asing dari pasar keuangan global masih terjadi, meski intensitasnya mulai menunjukkan moderasi.

Di dalam negeri, tekanan harga terus mereda. Inflasi pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88% secara tahunan (yoy), sementara aktivitas manufaktur kembali memasuki zona ekspansi dengan Purchasing Managers’ Index (PMI) sebesar 50,2. (*)

Pos terkait