Politik Jakarta Ubah Peta Musda Golkar Sulsel

Diskresi Ubah Peta Musda Golkar Sulsel
FOTO: IST //BERUBAH ARAH. Dukungan mayoritas Dewan Pimpinan Daerah (DPD) II Partai Golkar berubah usai Ketua Umum DPP Partai Golkar Bahlil Lahadalia memberikan diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin (IAS) menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) XI Partai Golkar Sulawesi Selatan.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Peta persaingan menjelang Musyawarah Daerah (Musda) Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) semakin sengit setelah Ilham Arief Sirajuddin (IAS) menerima surat diskresi dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar. Dokumen tersebut diberikan langsung oleh Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia pada Rabu (24/6/2026).

Sebelum terbitnya diskresi, perhatian publik lebih banyak tertuju kepada Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, yang mengklaim telah mengamankan dukungan dari 21 DPD II Partai Golkar Kabupaten/Kota se-Sulawesi Selatan. Kondisi tersebut membuat Munafri dianggap sebagai kandidat dengan peluang paling besar.

Namun, keluarnya surat diskresi mengubah dinamika kontestasi. IAS, mantan Wali Kota Makassar dua periode yang sebelumnya terkendala syarat administratif, kini memiliki dasar untuk ikut bertarung dalam perebutan kursi Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel.

Bacaan Lainnya

Direktur Nurani Strategic Consulting, Dr. H. Nurmal Idrus, SE., MM., berpandangan bahwa terbitnya surat diskresi dari DPP Partai Golkar menjadi titik balik terpenting bagi Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dalam upayanya maju sebagai calon Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel.

Menurut pengamat politik yang juga mantan Ketua KPU Makassar tersebut, keberadaan diskresi ibarat jalur khusus yang membuka jalan IAS menuju kontestasi Musda. Sebab, sebelum surat itu diterbitkan, IAS masih terkendala persyaratan administratif dan organisasi.

Ia menilai makna diskresi jauh melampaui sekadar pemenuhan syarat formal. Dalam dinamika internal partai, keputusan yang dikeluarkan Ketua Umum memiliki bobot politik yang besar dan dapat dibaca sebagai arah dukungan kepada kader tertentu.

“Dalam tradisi politik partai, terutama partai yang memiliki struktur komando kuat seperti Golkar, diskresi dari Ketua Umum adalah sinyal politik yang sangat jelas. Bahkan dapat dimaknai sebagai pesan langsung kepada para voters bahwa pilihan Jakarta berada pada IAS,” jelasnya.

Nurmal memprediksi keluarnya diskresi akan memengaruhi konstelasi persaingan menjelang Musda Golkar Sulsel. Menurutnya, para pemilik hak suara kemungkinan menjadikan sikap DPP sebagai salah satu faktor penting sebelum menentukan pilihan.

“Ketika Ketua Umum telah memberikan ruang dan legitimasi politik kepada seorang figur, maka itu akan dibaca oleh para pemilik suara sebagai arah kebijakan organisasi. Karena itu, saya melihat peluang IAS kini semakin terbuka dan semakin kuat dibanding sebelumnya,” katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa proses politik menuju Musda masih akan diwarnai komunikasi serta konsolidasi antarkandidat. Kendati begitu, dari perspektif organisasi, ia menilai keluarnya diskresi merupakan momentum strategis yang akan sulit diabaikan dalam dinamika pemilihan.

“Tetapi secara politik, diskresi ini telah mengirimkan pesan yang sangat kuat bahwa IAS mendapatkan kepercayaan dari tingkat pusat. Karena itu, ruang manuver politik para pemilik suara kini akan semakin dipengaruhi oleh sinyal yang telah diberikan DPP,” pungkasnya.

Sementara itu, Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai surat diskresi memberikan legitimasi penuh bagi IAS untuk maju sebagai kandidat dalam kontestasi Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel. Namun, menurutnya, hasil akhir Musda tetap ditentukan oleh suara para pemilik hak pilih.

“Karena itu, selama dukungan mayoritas DPD II kepada Munafri Arifuddin benar benar tetap solid hingga hari pemungutan suara, maka peluang Appi tetap sangat besar untuk memenangkan Musda,” ujarnya.

Asratillah menjelaskan, kekuatan utama Munafri atau Appi terletak pada konsolidasi di tingkat akar rumput partai. Dalam mekanisme Partai Golkar, dukungan DPD II tidak hanya bernilai administratif, tetapi juga mencerminkan tingkat kepercayaan struktur daerah terhadap kapasitas seorang calon.

“Dukungan seperti ini biasanya dibangun melalui komunikasi yang panjang dan hubungan politik yang tidak lahir dalam waktu singkat. Karena itu, diskresi dari DPP memang menjadi modal penting bagi IAS, tetapi modal tersebut tetap harus diterjemahkan menjadi dukungan nyata dari para pemilik suara,” jelasnya.

Di sisi lain, Asratillah menilai diskresi memiliki kekuatan pada aspek legitimasi politik. Namun, pengalaman berbagai Musda menunjukkan legitimasi dari DPP tidak selalu berujung pada kemenangan jika tidak dibarengi konsolidasi yang kuat di tingkat daerah.

Menurut Asratillah, pertarungan menuju Musda Golkar Sulsel kini memasuki fase yang semakin menentukan. IAS memiliki modal berupa legitimasi dari DPP melalui surat diskresi, sementara Appi mengandalkan dukungan yang selama ini dibangun di tingkat DPD II. Kedua modal itu sama-sama penting dan belum ada yang benar-benar lebih menentukan dibanding yang lain.

“Karena itu, hasil Musda nantinya akan sangat bergantung pada kemampuan masing masing kandidat menjaga soliditas pendukungnya, membangun komunikasi dengan kelompok yang belum menentukan pilihan, serta meyakinkan pemilik suara bahwa merekalah figur yang paling mampu membawa Golkar Sulsel kembali menjadi kekuatan utama pada Pemilu 2029,” tutupnya. (*)

Pos terkait