Memahami Makna Zulhijjah: Tentang Ikhlas, Pengorbanan, dan Belajar Menjadi Lebih Baik

4c8db4ba 30b8 4c6a a9d2 f7cf564ebdba
Mukarramah Syukur, S.Pd.M.Ak.

Oleh: Mukarramah Syukur, S.Pd.M.Ak.
———————————————-
Dosen FEB UNM

BAGI sebagian orang, datangnya bulan Zulhijjah mungkin hanya identik dengan Iduladha dan pembagian daging kurban. Padahal, jika dipahami lebih dalam, Zulhijjah bukan sekadar tentang ritual tahunan, tetapi tentang bagaimana manusia belajar memperbaiki hati, menguatkan keikhlasan, dan memahami arti pengorbanan yang sesungguhnya.

Zulhijjah selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Ada gema takbir yang mulai terdengar, ada orang-orang yang mulai menyisihkan rezekinya untuk berkurban, dan ada pula banyak doa yang diam-diam dipanjatkan agar suatu hari bisa menjadi tamu Allah di tanah suci.

Bacaan Lainnya

Bulan ini seperti mengingatkan manusia bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar urusan dunia, tetapi juga tentang mempersiapkan bekal menuju kehidupan yang lebih abadi.

Dalam Islam, 10 hari pertama bulan Zulhijjah termasuk hari-hari yang sangat dimuliakan. Bahkan Rasulullah SAW menyebut bahwa tidak ada hari-hari yang amal saleh di dalamnya lebih dicintai Allah dibanding hari-hari tersebut. Karena itu, banyak orang berlomba memperbanyak ibadah dan amal kebaikan di hari-hari tersebut.

Ada banyak amalan yang bisa dilakukan untuk menghidupkan 10 hari awal Zulhijjah. Di antaranya memperbanyak dzikir seperti takbir, tahmid, dan tahlil. Selain itu, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak sedekah, membaca Al-Qur’an, memperbaiki salat, menjaga silaturahmi, serta memperbanyak doa dan istighfar.

Salah satu amalan yang juga sangat dianjurkan adalah puasa sunnah di awal Zulhijjah, terutama puasa Arafah pada tanggal 9 Zulhijjah bagi yang tidak sedang menunaikan ibadah haji. Rasulullah SAW menyebut bahwa puasa Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang. Ini menunjukkan betapa besar kasih sayang Allah kepada hamba-Nya yang ingin memperbaiki diri.

Tentu saja, amalan yang paling identik dengan Zulhijjah adalah ibadah kurban. Namun menurut saya, ada makna yang lebih dalam dari semua itu, yaitu tentang belajar mengalahkan diri sendiri.

Kadang pengorbanan terbesar bukan tentang seberapa mahal hewan kurban yang dibeli, tetapi tentang seberapa ikhlas seseorang melepaskan rasa cintanya terhadap dunia. Sebab pada dasarnya manusia sangat mudah terikat pada kenyamanan, harta, dan keinginannya sendiri. Zulhijjah datang untuk mengingatkan bahwa ada kalanya kita harus belajar memberi, berbagi, dan mendahulukan sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi pelajaran yang sangat kuat tentang keikhlasan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Nabi Ibrahim diuji dengan sesuatu yang paling beliau cintai, lalu tetap memilih taat meskipun itu bukan hal yang mudah. Dari kisah itu, kita belajar bahwa iman kadang menuntut pengorbanan, dan pengorbanan tidak akan pernah terasa ringan tanpa keikhlasan.

Di kehidupan hari ini, bentuk pengorbanan mungkin tidak lagi sama. Ada orang yang berjuang menyisihkan penghasilannya agar bisa berkurban. Ada yang menahan keinginan pribadi demi membantu orang tua. Ada pula yang berusaha tetap jujur dan amanah di tengah banyaknya godaan kehidupan. Semua itu juga bagian dari makna pengorbanan.

Zulhijjah juga mengajarkan tentang kepedulian sosial. Ketika daging kurban dibagikan, sebenarnya yang sedang dibangun bukan hanya tradisi berbagi makanan, tetapi rasa persaudaraan dan kepedulian terhadap sesama. Islam mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak seharusnya dinikmati sendiri.

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hajj ayat 37: “Daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.”

Ayat ini mengingatkan bahwa yang paling utama bukan sekadar bentuk ibadahnya, tetapi ketulusan hati dalam menjalaninya.

Menurut saya, Zulhijjah seharusnya menjadi momentum untuk kembali memperbaiki diri. Bukan hanya sibuk mempersiapkan kurban secara materi, tetapi juga mempersiapkan hati agar lebih ikhlas, lebih bersyukur, dan lebih peduli terhadap orang lain.

Karena pada akhirnya, makna Zulhijjah bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi tentang menyembelih rasa ego, kesombongan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia.

Dari sanalah manusia belajar bahwa hidup yang baik bukan hanya tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang seberapa banyak manfaat dan ketulusan yang mampu diberikan kepada sesama.(*)

Pos terkait