OLEH: DR.NILA SASTRAWATI.,M.SI.
———————————————
DI TENGAH lautan manusia yang memadati pelataran Masjidil Haram, kita sering menyaksikan pemandangan yang menyentuh hati: seorang perempuan muda yang dengan sigap mendorong kursi roda jemaah lansia meski bukan keluarganya, atau jemari yang dengan tulus membagi sebotol air dan menyemprotkan face mist kepada jemaah lain yang kepanasan di bawah terik matahari.
Bahkan tanpa kesamaan bahasa, banyak jemaah perempuan yang berkomunikasi lewat gestur sederhana memberikan ruang duduk di saf yang sesak atau membagi kurma/permen saat antrean panjang yang melelahkan. Potret-potret kecil inilah yang menjadi wajah nyata dari sebuah nilai yang sering terlupakan di balik ritual ibadah, yakni: Kesalehan Sosial.
Bagi banyak perempuan, puncak haji bukan sekadar saat kening menyentuh lantai masjid atau selesainya rukun ibadah. Puncak haji justru hadir saat tangan mereka terulur membantu sesama di tengah hiruk-pikuk jamaah.
Seringkali kita menganggap haji adalah perjalanan spiritual yang bersifat pribadi, namun di tangan perempuan, haji menjelma menjadi sekolah kemanusiaan yang penuh kasih sayang.
Dalam perspektif sosiologi gender, fenomena ini dikenal dengan Etika Kepedulian (Ethics of Care). Jika pendekatan maskulin sering kali berfokus pada ketepatan aturan dan prosedur ibadah (justice), maka perempuan hadir membawa warna kepedulian yang menekankan pada pemeliharaan relasi dan empati.
Perempuan tidak hanya hadir sebagai individu, tetapi sebagai simbol ketangguhan yang mewarisi perjuangan Siti Hajar. Sebagaimana Siti Hajar yang gigih berikhtiar di antara Shafa dan Marwah demi keberlangsungan hidup Ismail, perempuan masa kini pun berikhtiar memastikan tidak ada saudara seiman yang tertinggal atau menderita sendirian.
Di balik jilbab dan mukena mereka, perempuan adalah aktor kunci yang mengubah ruang publik yang kompetitif dan sesak menjadi ruang yang lebih inklusif dan kolaboratif. Dengan naluri pengasuhannya, mereka membuktikan bahwa kesalehan ritual harus berjalan beriringan dengan kesalehan sosial.
Kesabaran mereka dalam menghadapi antrean dan kemampuan menjaga lisan menjadi peredam suasana yang efektif di tengah massa yang kadang emosional.
Dari Tanah Suci, para perempuan ini membawa pulang lebih dari sekadar gelar Hajjah.
Mereka membawa semangat spiritualitas kepedulian, sebuah keyakinan bahwa ibadah terbaik tidak berhenti pada doa dan zikir, tetapi hidup dalam tindakan nyata yang menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Peran perempuan di Tanah Suci mengingatkan kita bahwa kesalehan tidak memenjarakan perempuan dalam ruang domestik saja. Sebaliknya, iman yang kuat justru mendorong mereka untuk aktif di ruang publik demi kemaslahatan umat.
Jika kita bisa begitu peduli pada orang asing dari berbagai belahan dunia, seyogyanya sekembalinya ke tanah air, kita jauh lebih peka terhadap kebutuhan tetangga, kerabat, dan masyarakat di sekitar kita.
Sebab, haji yang mabrur adalah haji yang mampu menggerakkan hati untuk lebih mencintai Allah melalui pengabdian kepada sesama manusia.
Wallahu a’lam bish-shawab.(*)










