By: Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.
———————————————————————
Dosen Pendidikan Akuntansi, Universitas Negeri Makassar
ADA sebuah garis melintang yang menetap selamanya di perut seorang ibu. Bagi dunia, mungkin itu hanya sebuah bekas luka operasi. Namun bagi saya, garis itu adalah sebuah “pintu” yang dibuka paksa demi sebuah pertemuan paling indah dalam hidupnya.
Kita seringkali terlalu sibuk memperdebatkan cara seorang anak datang ke dunia. Terjebak dalam kata “normal” dan “tidak normal”. Padahal, adakah yang tidak normal dari seorang perempuan yang menyerahkan tubuhnya untuk disayat dalam tujuh lapisan jaringan? Adakah yang lebih berani daripada seseorang yang bersedia kehilangan kesadaran atau merasakan kakinya lumpuh sesaat demi mendengar tangisan pertama yang memecah sunyi?
Di ruang operasi yang dingin, di bawah lampu yang terang benderang, seorang ibu menyerahkan segalanya pada doa dan tangan-tangan medis. Melahirkan sesar itu sunyi dan tidak ada proses mengejan yang riuh, tapi ada detak jantung yang berpacu hebat menahan cemas: “Apakah anakku sehat? Apakah aku bisa bangun lagi untuk melihatnya?”
Sakitnya memang tidak datang di awal, tapi ia setia menemani setelahnya. Saat ibu lain mungkin sudah bisa berjalan memeluk bayinya, ibu yang melalui prosedur sesar harus bersahabat dengan rasa perih yang luar biasa bahkan hanya untuk sekadar tertawa atau bersin harus ditahannya. Setiap gerakan adalah perjuangan. Namun, ajaibnya, semua rasa sakit itu seolah meluap begitu saja saat kulit mungil sang bayi bersentuhan dengan kulitnya.
Kita harus berhenti memandang bahwa bekas luka sesar sebagai sebuah kekurangan. Melain luka itu adalah sebuah tanda cinta. Ia adalah bukti bahwa seorang ibu telah mengesampingkan egonya, ketakutannya akan jarum dan pisau bedah, demi keselamatan nyawa yang lain. Menjadi ibu bukan tentang bagaimana cara kita “mengeluarkan” kehidupan, tapi tentang bagaimana kita “memperjuangkan” kehidupan.
Jadi, untuk setiap ibu yang memiliki garis cinta di perutnya, jangan pernah merasa kecil hati. Garis itu bukan tanda kegagalan. Garis itu adalah sebuah anugrah, sebuah bukti nyata bahwa kamu telah memberikan rumah yang paling aman dan jalan keluar yang paling berani untuk si buah hati. Kamu adalah ibu yang utuh, sejak detak jantung itu mulai ada hingga selamanya.(*)









