LENSA HATI DI BALIK LAYAR APLIKASI NUSUK

IMG 20260510 WA0007

OLEH: DR.NILA SASTRAWATI.,M.SI.

— — — — — — — — — — — — 

Menginjakkan kaki di pelataran Masjid Nabawi rasanya selalu spesial. Ada rasa rindu yang luar biasa, tapi kadang terselip juga rasa malu saat teringat kesalahan-kesalahan di masa lalu. Bagi sejumlah jamaah, datang ke Madinah bukan sekadar jalan-jalan biasa, tapi momen untuk pulang ke tempat yang tenang dan meninggalkan sejenak hiruk-pikuk duniawi.

Bacaan Lainnya

Namun, perjuangan menuju “Taman Surga” tidaklah mudah. Sebelumnya untuk masuk ke Raudhah atau Taman Surga bergantung pada kekuatan fisik saat mengantre, sekarang perjuangan ada di jari tangan lewat aplikasi Nusuk. Terselip kekhawatiran tersendiri saat menatap layar ponsel, apakah hari ini kita dapat izin untuk masuk?

Di sinilah kesabaran diuji, Ketika niat tulus untuk beribadah harus berjalan beriringan dengan aturan yang diterapkan secara ketat. Ego benar-benar dilatih untuk sabar dan patuh terhadap aturan untuk tidak sibuk memotret atau merekam video yang esensinya adalah ajakan agar kita kembali fokus dalam spiritualitas diri. Berhenti sejenak dari validasi sosial. Ketika kamera ponsel disimpan, mata hati akan terbuka dan lebih merasakan syahdunya suasana dan dalamnya doa, murni hanya antara personal dan Sang Khalik.

Realitasnya, tidak semua jamaah paham dengan sistem digital ini. Banyak jemaah, terutama yang sepuh, merasa bingung atau lelah menghadapi urusan aplikasi yang rumit. Di sinilah peran Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH), antara lain KBIH Syekh Yusuf sangat penting dan terasa manfaatnya. Bukan hanya membersamai jamaah dalam perjalanan, tetapi juga membantu dan memudahkan urusan administratif dan birokrasi, sehingga jamaah lebih fokus ibadah.

Pada akhirnya, perjalanan menuju karpet hijau Raudah mengajarkan hikmah sosiologis yang mendalam, bahwa ketaatan terhadap aturan dunia adalah perwujudan dari ketundukan pada Sang Khalik.

Dalam situasi sistem dan penjagaan yang ketat, Allah swt menyediakan jalan melalui struktur sosial (KBIH) yang saling menguatkan.

Madinah tetaplah sama, tempat yang selalu menerima dengan hangat, di mana kecanggihan teknologi dan kekhusyukan doa bisa bertemu untuk menyucikan kembali hati di tengah dinamika zaman yang terus berubah. Birokratisasi dan Rasionalisasi Ruang Suci berjalan bersamaan dalam bingkai spiritualitas.

Wallahu A’lam Bishawab

Pos terkait