ROMANTISME DALAM KESABARAN: SAAT TANAH SUCI MENGUBAH AKU MENJADI KITA

IMG 20260511 WA0058

OLEH: DR.NILA SASTRAWATI.,M.SI.

— — — — — — — — — — — — 

 

Bacaan Lainnya

Bagi pasangan suami istri, perjalanan ibadah ke Tanah Suci bukan sekadar perjalanan religi semata, tetapi juga sebagai momen tempaan cinta yang menguji sejauh mana kesabaran sanggup bertahan di atas ego yang selama ini mungkin mendominasi rumah tangga. Di bawah langit Madinah yang teduh dan di hadapan Ka’bah yang agung, ditemukan definisi romantis yang hakiki. Bukan lagi tentang kata-kata atau hadiah-hadiah, melainkan tentang bagaimana sang suami meruntuhkan seluruh gengsi dunianya untuk mengayomi, melindungi, dan bagaimana sang istri meluruhkan segala tuntutannya demi sebuah pemahaman/pengertian yang mendalam. Di tanah yang diberkahi ini, hadir kesadaran bahwa di hadapan Allah swt, yang ada hanyalah dua hamba yang bersimpuh, bahu-membahu mengemis ampunan dan ridho yang sama.

‎Momen Tawaf menjadi puncak di mana kekuatan ikatan rasa diuji sekaligus direkatkan secara spiritual. Saat pertama kali menapakkan kaki di pelataran Mataf yang padat jamaah, sang istri mungkin sempat merasa gentar, jiwanya bergetar melihat lautan manusia yang seolah tak berujung dan arus yang begitu kuat. Namun, di situlah dirasakan keajaiban dari kekuatan genggaman tangan sang suami yang tak sekalipun terlepas, melindunginya dengan raga dari desakan jamaah lain yang datang dari segala penjuru. Sang suami menjadi tameng hidup, memastikan istrinya tetap bisa berzikir dengan tenang dalam ritme putaran menuju Hajar Aswad. Sebaliknya, saat sang suami mulai terlihat kehausan, peluhnya membasahi kain ihram, dan tenaganya mulai terkuras di bawah terik matahari, sang istri hadir dengan usapan semangat, memberikan seteguk air zam-zam dengan penuh kasih, dan bisikan doa yang menjadi penyejuk jiwa yang luar biasa.

‎Momen putaran tawaf merupakan miniatur kehidupan rumah tangga, terkadang arus membawa begitu dekat dengan pusat kebahagiaan, namun terkadang ujian melemparkan jauh ke tepi yang melelahkan. Selama berfokus pada satu tujuan yang sama, akan tiba pada putaran terakhir dengan iringan doa yang sama.

‎Tantangan psikologis yang dihadapi di tanah suci juga jauh lebih berat daripada sekadar kelelahan fisik atau kaki yang melepuh. Ada momen-momen di mana tekanan batin memuncak, terutama saat rasa rindu pada buah hati yang ditinggalkan di rumah mulai menyiksa dan menimbulkan rasa cemas yang tak beralasan. Dalam kondisi kurang tidur, kelelahan mental, dan jadwal ibadah yang sangat padat, emosi diuji. Di sinilah pola hubungan mengalami perubahan. Sang istri yang dulu mungkin sesekali ketus dalam berucap atau mudah mengeluh, kini mulai melembutkan suaranya karena takut akan larangan berkata kasar dan emosional selama menjalankan ibadah haji.

‎Begitu pula dengan sang suami yang mungkin di rumah cenderung kaku atau kurang peduli, di sini menjadi lebih peka, memberikan bahunya sebagai sandaran saat sang istri kelelahan menunggu waktu salat, bahkan tanpa perlu diminta. Melihat sang istri tetap sabar dalam peluh, atau melihat sang suami tetap tenang dan mengayomi dalam kondisi paling lelah sekalipun, membuat cinta semakin kuat, melalui jalur langit yang jauh lebih mulia dan abadi. Berproses menjadi sebuah tim yang solid, yang mampu menekan kepentingan pribadi demi kemaslahatan bersama.

Sebagaimana janji Allah dalam Surah Ar-Rum Ayat 21; tujuan pernikahan dalam Islam: menciptakan ketenteraman (sakinah), rasa cinta (mawaddah), dan kasih sayang (rahmah) antara suami istri. Ketenteraman atau sakinah hadir bukan karena sedang nyaman atau mewah, melainkan karena belajar untuk saling ridho, saling memaafkan, dan saling menguatkan di tengah segala keterbatasan fisik.

‎Pada akhirnya, Tanah Suci mengajarkan bahwa cinta yang paling tangguh adalah cinta yang dibangun di atas fondasi ketaatan kepada Sang Pencipta.

‎Ibadah ini menyadarkan pasangan bahwa rumah tangga adalah sebuah perjalanan “Tawaf” yang panjang, terus berputar mengelilingi pusat yang sama, yakni keridhoan Allah swt. Untuk menjadi “Kita” yang utuh, suami istri harus mampu menghilang “Aku” yang egois, bersabar dan mengasihi di tempat yang paling menguji, menerima kekurangan pasangan, dan semangat yang lebih kuat untuk membangun surga sebelum Surga yang sesungguhnya.

‎Wallahu a’lam bish-shawabi

Pos terkait