Mengetuk Pintu Langit di Rooftop Masjidil Haram

IMG 20260519 WA0034

OLEH: DR.NILA SASTRAWATI.,M.SI.

(Jamaah KBHU Syekh Yusuf)

— — — — — — — — — — — — 

Bacaan Lainnya

Padatnya jamaah haji menjelang ARMUZNA tidak menyurutkan untuk bersujud dan bersimpuh di Masjidil Haram. Kali ini, saya melaksanakan shalat magrib dan isya di rooftop Masjidil Haram tepatnya di lantai 4, tempat yang menghadirkan keteduhan, ketenangan, dan keheningan meskipun prosesi tawaf bagi jamaah lain tetap berjalan.

Sayup-sayup terdengar suara tangis lirih seorang ibu parubaya di samping saya. Ia duduk bersimpuh di atas sajadah dengan bahu yang cukup bergetar. Kedua tangannya menengadah, namun air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung, membasahi wajah yang tertunduk lesu.

Awalnya, siapapun yang menyaksikan pemandangan itu mungkin berpikir ibu ini sedang mengkhawatirkan buah hati di kampung halaman, atau suami yang dengan kondisi yang kurang baik. Seketika ibu tersebut melirik dan tersenyum getir. Tanpa diminta, ia bercerita. Isak tangis itu bukanlah tentang sang anak atau sang suami, melainkan sebuah penyesalan mendalam tentang masa lalu bersama sang Ayah yang kini telah tiada.

Ibu tersebut terjebak dalam kehidupan yang dialami oleh banyak anak di era modern. Selama ini, ia adalah sosok anak yang berbakti secara materi. Ia selalu siap membantu setiap kesulitan, termasuk urusan finansial ayahnya. Namun, di balik kecukupan materi tersebut, ia melupakan satu hal yang paling berharga bagi orang tua yaitu, waktu untuk sekadar hadir, duduk bersama, dan mendengarkan cerita-cerita indah dan pengalaman hidup dari sang ayah.

Penyesalan terbesarnya memuncak ketika memori masa lalu berputar kembali tepat di saat melihat dua menara besar yang terlihat kokoh di rooftop masjidil haram. Dua tiang ini sangat melekat dalam benaknya, sebab menjadi background foto sang ayah ketika melaksanakan ibadah haji, dan terbingkai indah dalam kamar Ayahnya.

Ibu ini menyadari bahwa dirinya tidak pernah punya waktu luang untuk mendengarkan untaian kisah sang ayah saat beliau baru pulang dari Tanah Suci dua tahun sebelum sang Ayah berpulang. Kisah spiritual yang begitu ingin dibagikan oleh sang ayah dengan mata berbinar-binar, kini telah terkubur bersamanya dalam keabadian.

Dinamika hubungan antara orang tua dan anak yang sudah dewasa, sering kali muncul miskonsepsi mengenai makna kata “berbakti”. “Berbakti” sering kali diwujudkan sebatas pemenuhan materi (transaksional). Misalnya, merasa cukup dengan kesuksesan membiayai hidup orang tua, memberikan fasilitas mewah, atau menjadi penolong saat ada masalah apapun, tetapi melupakan fungsi emosional dari kehadiran seorang anak. Padahal, orang tua di usia senja lebih membutuhkan perhatian dan pendengar yang baik.

Di tengah penyesalan panjang, Islam tidak menutup pintu bakti seorang anak meskipun orang tuanya telah meninggal. Kematian hanya memisahkan fisik, tetapi aliran pahala dan kasih sayang akan selalu terbuka. Bukankah Rasulullah saw memberikan penawar bagi umatnya yang ditimpa penyesalan. “Apabila seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim). Menyelipkan nama orang tua disetiap sujud dan doa, terlebih saat Wukuf di Arafah sebagai momen yang sangat spesial.

Percakapan di atas rooftop Masjidil Haram malam itu memberikan sebuah tamparan batin bagi saya pribadi, seorang anak yang ayahnya juga telah berpulang tak lama setelah menunaikan ibadah haji di Tanah Suci. Mendengar cerita ibu itu, saya tidak berkomentar…hanya tersenyum sangat tipis sembari menggenggam tangannya. Entah siapa yang dikuatkan, ibu itu atau diri saya sendiri, sambil menghela nafas pedih.

Kita sering kali berlomba mengejar dunia demi membelikan fasilitas terbaik untuk orang tua, tetapi kita kerap lupa bahwa yang mereka butuhkan di masa tuanya adalah kehadiran fisik dan telinga yang tulus mendengarkan cerita mereka.

Semoga setiap tetes air mata rindu sebagai penguat untuk memperpanjang sujud-sujud doa untuk orang tua yang telah tiada. Jika dahulu lalai memberikan waktu di dunia, maka di waktu-waktu terbaik saat ini mengirimkan wasilah doa di setiap sujud shalat, dan sedekah-sedekah terbaik yang pahalanya diniatkan atas nama mereka.

Pada akhirnya, cinta sejati seorang anak tidak diukur dari seberapa besar aksesoris duniawi yang diberikan untuk mereka ketika di dunia, melainkan seberapa gigih mengetuk pintu langit demi memohonkan sebuah rumah yang indah bagi mereka di jannahNya.

Wallahu a’lam bishawab

Pos terkait