Urgensi Memutus Rantai Anemia Sejak Bangku Sekolah Dasar

anemia

Oleh : Nabila Amelia Hanisyah Putri
=========================

PERMASALAHAN gizi buruk dan anemia pada anak usia sekolah serta remaja di Indonesia menuntut perhatian yang jauh lebih serius daripada sekadar formalitas program kesehatan.

Selama ini, arah kebijakan dan intervensi pemerintah cenderung terfokus pada penanganan ibu hamil demi mencegah kelahiran bayi dengan anemia. Padahal, jika kita ingin memutus rantai masalah ini secara fundamental, langkah preventif seharusnya sudah dimulai sejak dini, khususnya pada remaja putri sebagai calon ibu masa depan.

Bacaan Lainnya

Remaja yang menderita anemia tidak hanya menghadapi penurunan produktivitas belajar, tetapi juga memikul risiko komplikasi persalinan yang serius hingga potensi kematian ibu di masa depan. Kenyataan bahwa angka prevalensi anemia pada kelompok usia 5 hingga 14 tahun di Indonesia telah mencapai 26,4% menjadi alarm keras bahwa intervensi kesehatan tidak boleh lagi ditunda hingga mereka dewasa.

Salah satu akar masalah yang paling mendasar di tingkat sekolah adalah minimnya pengetahuan yang valid serta adanya miskonsepsi yang mengakar di kalangan siswa. Berdasarkan potret kondisi awal di SD Muhammadiyah Singaraja, banyak siswa yang menganggap remeh gejala anemia dan mengiranya sebagai konsekuensi biologis yang normal akibat siklus menstruasi bulanan.

Ironisnya lagi, di tengah gempuran era digital, anak-anak cenderung lebih banyak menyerap informasi kesehatan dari sumber yang kurang valid seperti platform TikTok, YouTube, dan Instagram, ketimbang dari literatur kesehatan yang tepercaya. Di sisi lain, potensi besar yang dimiliki sekolah, seperti keberadaan unit Palang Merah Remaja (PMR) tingkat Mula, sering kali belum optimal karena terbentur masalah legalitas dan keterbatasan program kerja yang konkret di lingkungan sekolah.

Melalui kegiatan pengabdian masyarakat, dilakukan upaya pemberdayaan dengan memposisikan anggota PMR Mula sebagai agen perubahan di sekolah. Fokus utama program ini adalah membekali para siswa dengan pengetahuan dasar mengenai anemia, penyebab, cara pencegahan, serta pentingnya gizi seimbang.

Strategi edukasi sengaja dirancang agar tidak monoton, melainkan memanfaatkan produk inovatif berbasis IPTEK seperti permainan ular tangga edukatif, e-poster, dan diskusi partisipatif. Melalui media kreatif tersebut, siswa dilibatkan secara aktif, yang pada akhirnya terbukti efektif memicu peningkatan skor post-test serta membentuk sikap positif siswa terhadap pencegahan anemia.

Esensi keberlanjutan dari program ini terletak pada penerapan pendekatan edukasi sebaya (peer education) yang diawali dengan peresmian dan pelantikan pengurus PMR Mula. Ketika perwakilan siswa dibekali keterampilan untuk menjadi penggerak bagi teman-temannya, transfer informasi mengenai pentingnya gizi seimbang dan kebiasaan sarapan sehat dapat berjalan lebih alami karena memanfaatkan kedekatan emosional dan kesamaan usia.

Model pendekatan berbasis siswa ini tidak hanya bersifat promotif-preventif dan adaptif, tetapi juga menawarkan potensi replikasi yang tinggi di sekolah lain karena menggunakan media yang sederhana serta berbiaya rendah.

Integrasi antara media interaktif dan penguatan organisasi internal sekolah seperti PMR diharapkan mampu membangun kesadaran kesehatan yang berkelanjutan sejak dini. (*)

Pos terkait