Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga

Stabilitas Sektor Jasa Keuangan Tetap Terjaga
FOTO: IST//ZOOM. Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers via zoom, Selasa (7/7/2026). OJK menyampaikan stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya tekanan inflasi.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR – Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang digelar pada 1 Juli 2026 menilai, stabilitas sektor jasa keuangan (SJK) nasional tetap terjaga di tengah tingginya ketidakpastian geopolitik global dan meningkatnya tekanan inflasi.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam konferensi pers via zoom, Selasa (7/7/2026) menjelaskan bahwa perkembangan terkini menunjukkan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah mulai mereda, sehingga turut mengurangi tekanan di pasar energi global.

Kondisi tersebut tercermin dari harga minyak dunia yang kembali mendekati level sebelum konflik, serta berkurangnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi. Meski demikian, OJK mengingatkan bahwa risiko geopolitik masih perlu diwaspadai karena stabilitas kawasan tetap rentan terhadap potensi eskalasi baru.

Bacaan Lainnya

Friderica menjelaskan, sejumlah indikator perekonomian global menunjukkan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi pasar, meski terjadi perbedaan kondisi antarnegara di tengah meningkatnya tekanan inflasi.

Perekonomian Amerika Serikat dinilai masih cukup tangguh dengan pasar tenaga kerja yang solid, namun inflasi kembali mengalami kenaikan.

Sementara itu, Tiongkok masih menghadapi lemahnya konsumsi domestik dan investasi swasta, sedangkan aktivitas ekonomi di kawasan Eropa masih tertahan akibat lemahnya permintaan meskipun sektor manufaktur mulai menunjukkan perbaikan.

Pada Juni 2026, lanjut Friderica, Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) dan World Bank merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi masing-masing 2,8% dan 2,5%.

Menurutnya, prospek tersebut masih berpotensi memburuk apabila konflik geopolitik kembali meningkat atau gangguan pasokan komoditas energi berlangsung lebih lama.

Ia menambahkan, prospek pertumbuhan ekonomi global yang masih dibayangi lemahnya permintaan dunia, perlambatan ekonomi Tiongkok, serta meningkatnya ekspektasi suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama (higher for longer) turut memengaruhi selera risiko investor di pasar keuangan global.

Di dalam negeri, Friderica mengatakan sejumlah indikator ekonomi menunjukkan moderasi di tengah mulai meningkatnya tekanan inflasi. Indeks PMI manufaktur mengalami pelemahan, surplus neraca perdagangan menyempit, dan cadangan devisa menurun.

Meski demikian, stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga berkat bauran kebijakan fiskal dan moneter yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia. (*)

Pos terkait