Komisi D DPRD Sulsel Soroti Harga dan Kualitas Asbuton

Ketua Fraksi Partai NasDem Muhammad Sadar
Ketua Fraksi Partai NasDem, Muhammad Sadar

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR – Anggota Komisi D DPRD Sulawesi Selatan sekaligus Ketua Fraksi Partai NasDem, Muhammad Sadar, meminta pemerintah, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum, mengkaji secara menyeluruh rencana penggunaan Aspal Buton (Asbuton) dalam proyek multi years maupun proyek infrastruktur lainnya.

Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan tiga aspek utama sebelum memperluas penggunaan Asbuton, yakni harga, kualitas, dan ketersediaan pasokan.

Muhammad Sadar mengatakan harga Asbuton saat ini masih lebih tinggi dibandingkan aspal impor maupun aspal produksi Pertamina.

Bacaan Lainnya

Ia menyebut harga Asbuton mencapai sekitar Rp18 juta per metrik ton, sedangkan aspal Pertamina berada di kisaran Rp13,5 juta per metrik ton.

“Harga Aspal Buton sekitar Rp18 juta per metrik ton. Sementara aspal Pertamina berada di kisaran Rp13,5 juta. Ini menjadi salah satu pertimbangan kami agar penggunaan Asbuton benar-benar dikaji,” ujarnya.

Selain faktor harga, ia menilai pemerintah juga harus memastikan kualitas Asbuton melalui pengujian yang komprehensif. Menurutnya, kualitas produk harus sebanding dengan biaya yang dikeluarkan.

“Sudah mahal, kualitasnya juga harus benar-benar dipastikan. Jangan sampai harganya tinggi tetapi kualitasnya belum bisa dijamin,” katanya.

Muhammad Sadar juga menyoroti kebutuhan aspal nasional yang mencapai lebih dari 1,4 juta ton per tahun. Sementara itu, kapasitas produksi aspal Pertamina hingga kini belum mencapai 400 ribu ton per tahun.

Dengan kondisi tersebut, ia menilai Indonesia masih memerlukan impor untuk memenuhi kebutuhan nasional. Namun, ia mengusulkan agar impor dilakukan melalui Pertamina sehingga kualitas produk tetap terjaga dan pengawasannya lebih mudah.

“Kami tidak melarang impor. Silakan impor, tetapi harus melalui Pertamina. Dengan begitu kualitasnya terjamin dan pemerintah dapat melakukan pengawasan. Jangan impor langsung oleh masing-masing agen,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah terus meningkatkan kapasitas produksi dalam negeri agar ketergantungan terhadap aspal impor dapat dikurangi.

“Harapan kami, kilang yang dimiliki Pertamina bisa dimanfaatkan lebih optimal sehingga impor dapat ditekan. Kualitas aspal Pertamina sebenarnya sudah setara dengan aspal impor, hanya kapasitas produksinya yang masih terbatas,” ujarnya.

Di sisi lain, Muhammad Sadar mengingatkan seluruh rekanan yang mengerjakan proyek infrastruktur, khususnya proyek multiyears di Sulawesi Selatan, untuk mengutamakan kualitas pekerjaan.

Menurutnya, proyek multiyears dengan nilai lebih dari Rp2 triliun harus menghasilkan infrastruktur yang berkualitas agar manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

“Ini proyek multiyears dengan nilai lebih dari Rp2 triliun. Karena itu kami meminta seluruh rekanan bekerja dengan baik dan menjaga kualitas pekerjaan agar proyek seperti ini dapat terus berlanjut,” katanya.

Muhammad Sadar menegaskan dirinya tidak menolak penggunaan Asbuton. Ia hanya meminta pemerintah mengambil keputusan berdasarkan kajian yang komprehensif dengan mempertimbangkan aspek harga, kualitas, dan ketersediaan pasokan.

Ia menambahkan, proses kajian tersebut masih menunggu hasil pembahasan dari pihak terkait, termasuk mekanisme yang melibatkan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP).(*)

Pos terkait