RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR— Kelangkaan dan antrean bahan bakar minyak (BBM) yang terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan mulai dikhawatirkan memberi tekanan baru terhadap industri pariwisata, khususnya sektor perhotelan dan restoran.
Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sulawesi Selatan menilai persoalan BBM tidak bisa dilepaskan dari aktivitas ekonomi masyarakat. Ketika pasokan BBM terbatas dan antrean terjadi di sejumlah stasiun pengisian, mobilitas masyarakat berpotensi ikut terganggu.
Ketua PHRI Sulsel, Anggiat Sinaga, mengatakan dampak langsung kelangkaan BBM terhadap tingkat hunian hotel maupun kunjungan restoran memang belum dapat dihitung secara konkret.
Pasalnya, industri hotel dan restoran saat ini sudah menghadapi tekanan akibat melemahnya daya beli masyarakat setelah kebijakan efisiensi pemerintah. Kondisi tersebut membuat perputaran uang di masyarakat ikut terbatas.
“Agak susah memberi penjelasan dampaknya karena memang sekarang tingkat hunian dan tingkat tamu ke restoran lagi drop pasca efisiensi pemerintah. Uang beredar di masyarakat lagi terbatas, purchasing power masyarakat lagi drop,” ujar Anggiat.
Namun demikian, Anggiat menegaskan secara logika ekonomi, persoalan BBM hampir pasti memiliki dampak terhadap sektor hotel, restoran dan pariwisata.
Menurutnya, BBM berkaitan erat dengan mobilitas masyarakat, baik untuk perjalanan wisata, kegiatan bisnis maupun aktivitas konsumsi sehari-hari.
“Secara logika efek BBM sangat sulit tidak berpengaruh. Pasti akan mengurangi mobilitas masyarakat. Ketika mobilitas bermasalah, pasti juga tingkat hunian dan tingkat kunjungan ke restoran menurun,” katanya.
Ia menyebut kelangkaan BBM menjadi tambahan tekanan bagi pelaku usaha hotel dan restoran yang sebelumnya sudah menghadapi pelemahan pasar. Meski demikian, PHRI Sulsel belum dapat memastikan besaran penurunan okupansi hotel maupun omzet restoran yang secara khusus disebabkan oleh kelangkaan BBM.
Menurut Anggiat, dampak tersebut masih sulit dipisahkan dari berbagai faktor lain, terutama pelemahan daya beli dan berkurangnya aktivitas ekonomi masyarakat.
“Angka konkretnya akibat langka BBM belum bisa kita data, tetapi yang pasti memberi pengaruh,” tegasnya.
Anggiat sebelumnya juga mengungkapkan bahwa aktivitas pemerintahan memiliki kontribusi cukup besar terhadap tingkat hunian hotel di Sulsel.
Berkurangnya kegiatan pemerintahan turut membuat permintaan terhadap kamar hotel menurun. Sejumlah pelaku usaha bahkan harus melakukan penyesuaian operasional untuk menghadapi kondisi tersebut. Dalam situasi pasar yang sudah tertekan, persoalan BBM dikhawatirkan menjadi pukulan tambahan bagi industri hospitality.
Jika berlangsung dalam waktu panjang, keterbatasan BBM berpotensi membuat masyarakat mengurangi perjalanan yang tidak mendesak. Dampaknya dapat merembet ke perjalanan wisata, kunjungan bisnis, aktivitas pertemuan hingga konsumsi di restoran dan pusat kuliner.
Dengan demikian, persoalan BBM tidak hanya menyangkut ketersediaan energi, tetapi juga berpotensi memengaruhi rantai aktivitas ekonomi yang bergantung pada mobilitas masyarakat.
Bagi industri hotel dan restoran, kelancaran mobilitas menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga arus tamu dan konsumsi. Kondisi BBM yang tidak stabil dikhawatirkan membuat pemulihan sektor tersebut semakin berat. (*)














