RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Selatan mencatat inflasi year on year (y-on-y) pada Juli 2026 sebesar 2,75% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,86.
Dari seluruh daerah penghitungan inflasi di Sulsel, Kabupaten Luwu Timur mencatat inflasi tertinggi, sedangkan Kota Palopo menjadi daerah dengan inflasi terendah.
Ketua Tim Statistik Distribusi BPS Provinsi Sulawesi Selatan, Prayitno, yang mewakili Kepala BPS Sulsel, memaparkan, inflasi tahunan di Kabupaten Luwu Timur mencapai 3,50% dengan IHK 113,54, sementara Kota Palopo mencatat inflasi 1,48% dengan IHK 110,40.
Menurut Prayitno, inflasi tahunan di Sulsel dipicu oleh kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 2,54%, disusul kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga 1,21%, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga 1,86%, serta kelompok kesehatan 1,33%.
Selain itu, kelompok transportasi mencatat inflasi 3,15%, kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 1,77%, kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya 1,56%, kelompok pendidikan 2,25%, serta kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran 3,42%.
“Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan mencapai 9,78%,” papar Prayitno, dalam konferensi pers via YouTube resmi BPS Sulsel, Senin (3/8/2026).
Di sisi lain, hanya kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami deflasi sebesar 0,26%, sehingga turut menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Secara bulanan, BPS mencatat Sulawesi Selatan mengalami deflasi month to month (m-to-m) sebesar 0,18% pada Juli 2026. Sementara itu, inflasi year to date (y-to-d) atau inflasi sejak Januari hingga Juli 2026 tercatat sebesar 2,36%. (*)









