Pilketos Serentak 2026 Libatkan 243 Ribu Pelajar di Sulsel

Pilketos Serentak Tembus 1.134 Sekolah
FOTO: IST//SERENTAK. Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos) Serentak Tahun 2026 diikuti 243.076 pelajar SMA dan SMK se Sulawesi Selatan. Pembukaan Pilketos Serentak 2026 dipusatkan di SMA Negeri 21 Makassar, Rabu (30/9/2026).
banner 468x60
  • Dinas Pendidikan Sulsel menjadikan Pilketos sebagai sarana pelajar mengenal proses demokrasi, mulai dari memilih berdasarkan visi dan misi hingga menghargai perbedaan.
  • KPU Sulsel menilai pemilihan ketua OSIS dapat menjadi pengalaman awal bagi pelajar memahami tahapan dan nilai-nilai demokrasi.
  • Selain melibatkan ratusan ribu pemilih, Pilketos Serentak 2026 diikuti 1.236 calon ketua dan wakil ketua OSIS di berbagai sekolah.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Sebanyak 243.076 pelajar SMA dan SMK di Sulawesi Selatan ikut ambil bagian dalam Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos) Serentak Tahun 2026. Ajang pemilihan pemimpin siswa ini digelar serentak di 1.134 sekolah se-Sulsel.

Pembukaan Pilketos Serentak 2026 dipusatkan di SMA Negeri 21 Makassar, Rabu (30/9/2026), dan dibuka langsung Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, H. Iqbal Nadjamuddin.

Iqbal mengatakan, Pilketos tidak sekadar menjadi agenda rutin sekolah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran politik dan demokrasi bagi pelajar. Melalui proses pemilihan, siswa diperkenalkan dengan mekanisme menentukan pemimpin berdasarkan visi dan misi.

Bacaan Lainnya

“Pilketos ini tidak hanya mengajarkan pelajar untuk menentukan pilihan, tetapi juga mengajarkan anak-anak kita mengenal demokrasi secara langsung. Mulai dari memilih pemimpin berdasarkan visi dan misi, menerima pendapat orang lain, hingga berkontestasi secara sehat,” ujarnya.

Menurut Iqbal, pengalaman tersebut penting untuk membentuk karakter pelajar agar mampu menghargai perbedaan dan menjalankan proses demokrasi secara bertanggung jawab.

Ia juga berharap OSIS dapat menjadi garda terdepan sekaligus cerminan sekolah. Karena itu, kepemimpinan yang lahir dari Pilketos diharapkan mampu membawa nilai karakter, akhlak, dan prestasi akademik.

“Melalui Pilketos ini, saya berharap dapat membangun OSIS menjadi garda terdepan di masing-masing SMA dan SMK, sekaligus menjadi cerminan sekolah, baik dari segi karakter, akhlak, maupun prestasi akademik,” katanya.

Ketua KPU Sulsel, Hasbullah, turut menilai Pilketos sebagai miniatur pemilu yang dapat menjadi sarana mengenalkan demokrasi kepada generasi muda sejak bangku sekolah. “Pilketos ini dapat menjadi ruang pembelajaran demokrasi bagi anak-anak kita, sebab pemahaman tentang demokrasi sudah harus ditanamkan sejak dini,” ungkapnya.

Hasbullah mengatakan, proses pemilihan ketua OSIS memberikan kesempatan kepada pelajar untuk merasakan langsung tahapan demokrasi, mulai dari mengenal calon, mempertimbangkan visi dan misi, menentukan pilihan, hingga menerima hasil pemilihan.

Antusiasme siswa di SMA Negeri 21 Makassar, lanjutnya, menjadi salah satu gambaran tingginya perhatian pelajar terhadap kegiatan tersebut. Hal serupa juga dilaporkan dari berbagai daerah di Sulsel. “Hal ini membuktikan bahwa generasi muda kita sudah melek demokrasi. Semoga tingginya kesadaran berdemokrasi ini tetap terjaga hingga mereka menjadi pemilih yang cerdas pada pemilu dan pilkada ke depan,” ujarnya.

Skala Pilketos Serentak 2026 juga mengalami peningkatan signifikan. Pada awalnya, kegiatan ini hanya diikuti 528 SMA/SMK. Kini jumlah sekolah peserta mencapai 1.134 SMA/SMK di seluruh Sulawesi Selatan.

Selain melibatkan 243.076 pemilih, Pilketos Serentak 2026 juga diikuti 1.236 calon ketua dan wakil ketua OSIS. Angka tersebut menunjukkan besarnya ruang partisipasi pelajar dalam proses demokrasi di lingkungan sekolah.

Pembukaan Pilketos Serentak turut dihadiri Anggota KPU Sulsel Marzuki Kadir, Hasruddin Husain, dan Romy Harminto, serta jajaran KPU Provinsi Sulawesi Selatan dan KPU Kota Makassar.

Pilketos Serentak 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan memilih ketua OSIS. Lebih jauh, proses tersebut menjadi pengalaman awal bagi pelajar untuk memahami nilai demokrasi, menghormati perbedaan pilihan, serta membangun budaya kompetisi yang sehat.

Dengan demikian, sekolah tidak hanya menjadi tempat memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk belajar menjadi warga negara yang memahami hak, tanggung jawab, dan proses demokrasi.(*)

Pos terkait