- Andi Alfian Mallarangeng terang-terangan mengajak Appi bergabung dengan Demokrat.
- Appi belum memberi jawaban final dan memilih menyelesaikan urusan internal terlebih dahulu.
- Etika politik menjadi pertimbangan Appi sebelum menentukan langkah berikutnya.
- Demokrat menilai figur muda seperti Appi dibutuhkan untuk memperkuat partai di Sulsel.
RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Posisi politik Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin alias Appi saat ini masih berada di Partai Golkar. Di tengah menguatnya tawaran untuk bergabung dengan Partai Demokrat, Appi belum menyatakan diri pindah partai.
Status tersebut penting ditegaskan agar dinamika politik yang berkembang tidak dipahami sebagai keputusan politik yang sudah final. Appi hingga kini masih tercatat sebagai kader Golkar sekaligus Ketua DPD II Golkar Makassar.
Bahkan, masa kepengurusan DPD II Golkar Makassar di bawah kepemimpinannya baru-baru ini diperpanjang hingga pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda).
Sebelumnya, pada Juli 2026, Appi juga pernah menegaskan dirinya masih kader Golkar dan belum memiliki rencana meninggalkan partai tersebut.
Namun, peta politik mulai menarik setelah Partai Demokrat secara terbuka membuka ruang bagi Appi. Bahkan, nama Appi sempat mencuat dalam pembicaraan mengenai calon Ketua DPD Demokrat Sulsel menjelang Musda Demokrat.
Kini, ajakan itu semakin terang. Ketua Dewan Pakar DPP Partai Demokrat Andi Alfian Mallarangeng secara langsung mengajak Appi bergabung dengan Demokrat. Ajakan tersebut disampaikan Andi Alfian saat bertemu Appi di Makassar, Sabtu (03/10/2026).
Menurutnya, Demokrat membutuhkan figur-figur muda untuk memperkuat dan membangun partai di Sulawesi Selatan ke depan. “Partai Demokrat membutuhkan figur-figur muda seperti Bung Appi ini, Pak Wali. Figur-figur muda untuk membangun Partai Demokrat ke depan,” kata Andi Alfian.
Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga itu menilai Demokrat memiliki ruang untuk semakin berkembang di Sulsel dan bersaing dengan partai politik lainnya dalam membangun daerah dan Indonesia.
Karena itu, ia berharap Appi bersedia bergabung dan memperkuat Demokrat Sulsel. Andi Alfian menyebut dirinya sebagai kader senior Demokrat asal Sulsel memiliki tanggung jawab untuk mengajak tokoh-tokoh potensial daerah bergabung ke partai tersebut.
“Saya mengajak Bung Appi untuk bergabung, memperkuat Partai Demokrat di Sulawesi Selatan untuk menjadikan Partai Demokrat sebagai wadah perjuangan membangun bangsa ini, membangun Sulawesi Selatan dari Makassar,” ujarnya.
Andi Alfian juga mengungkapkan bahwa ajakan kepada Appi bukan kali pertama dilakukan. Ia menyebut ada sejumlah tokoh lain yang juga diajak bergabung dengan Demokrat.
Menariknya, Appi tidak serta-merta menerima tawaran tersebut.
Ia justru menekankan pentingnya menyelesaikan persoalan internal terlebih dahulu. Menurut Appi, dirinya tidak ingin mengambil keputusan secara tergesa-gesa karena ada etika politik dan prosedur organisasi yang harus dihormati.
“Bukan menolak, bukan tidak menerima, bukan juga langsung menerima dan mengiyakan. Tentu ada prosedur yang harus kami lewati,” kata Appi.
Pernyataan tersebut memberi pesan bahwa Appi belum pindah ke Demokrat. Ia masih berada dalam posisi sebagai kader Golkar, sementara tawaran Demokrat berada pada tahap komunikasi dan penjajakan politik.
Di sinilah sikap Appi menjadi menarik.
Ia tidak menutup pintu terhadap Demokrat, tetapi juga belum membuka pintu itu sepenuhnya. Dalam politik, sikap seperti ini menunjukkan bahwa keputusan besar tidak selalu harus diumumkan melalui manuver terbuka. Ada proses yang harus dihormati sebelum sebuah pilihan politik benar-benar diambil.
Apalagi, Appi sendiri menyadari bahwa perpindahan partai bukan sekadar persoalan personal. Ada konsekuensi organisasi dan etika yang menyertainya.
Sementara Demokrat telah memberikan sinyal terbuka. Ketua Bappilu Demokrat Sulsel Andi Januar sebelumnya menyatakan partainya tidak ingin mendahului keputusan politik Appi maupun mekanisme internal partai.
Dengan demikian, posisi Appi saat ini berada pada fase belum berpindah, tetapi sedang berada di tengah komunikasi politik dengan Demokrat. Bagi publik, perbedaan antara “didekati” dan “bergabung” menjadi penting.
Sebab hingga saat ini belum ada pernyataan resmi Appi yang mengonfirmasi dirinya keluar dari Golkar dan menjadi kader Demokrat. Justru pernyataan Appi menunjukkan ia ingin menyelesaikan kewajiban dan persoalan internal terlebih dahulu sebelum menentukan langkah.
Politik Sulsel kini tinggal menunggu satu hal: apakah komunikasi tersebut akan berujung pada perpindahan, atau justru berhenti sebagai sebuah tawaran politik.
Untuk saat ini, jawabannya belum final. Appi masih di Golkar. Demokrat sudah membuka pintu. Dan Appi memilih menjaga etika sebelum menentukan langkah.

















