By: Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.
————————————————————
Dosen Pendidikan Akuntansi, Universitas Negeri Makassar
STIGMA mengenai “setinggi apa pun sekolahnya seorang perempuan, ujung-ujungnya cuma ke dapur” mungkin terdengar seperti gurauan lama yang sudah basi dan sudah terbiasa didengar. Namun, jujur saja, sampai hari ini kalimat itu masih sering berbisik halus di ruang-ruang sekitar kita.
Mulai dari obrolan santai di meja makan saat membahas rencana kuliah, hingga sindiran halus tetangga ketika melihat seorang perempuan sibuk mengejar karir atau pendidikan lanjutannya.
Tanpa kita sadari, narasi lama ini bekerja seperti tembok tak terlihat yang pelan-pelan meredupkan mimpi banyak perempuan muda. Dapur bukan tempat hukuman, dan menjadi ibu rumah tangga bukanlah sebuah penurunan derajat.
Ketika seorang perempuan berpendidikan tinggi akhirnya memilih untuk mendedikasikan hidupnya di rumah, mengurus keluarga, dan mendampingi anak-anaknya, tidak ada yang sia-sia dari ijazahnya. Ibu yang cerdas dan terpelajar adalah benteng pertama bagi tumbuh kembang anak.
Dari tangannya lahir generasi yang berpikir kritis, santun, dan tangguh. Pendidikan yang ia tempuh tidak hilang begitu saja; pengetahuan itu menjelma menjadi pola asuh, cara ia mengambil keputusan di masa sulit, dan bagaimana ia mengelola rumah tangga dengan bijak.
Pendidikan adalah hak dasar manusia, bukan tiket yang hanya berlaku jika dipakai untuk bekerja di kantor. Mengurung tujuan pendidikan perempuan hanya pada “fungsi domestik” atau sekadar “bekas pakai di dunia kerja” adalah logika yang keliru.
Perempuan belajar bukan hanya untuk mencetak uang atau menyaingi laki-laki, melainkan untuk memperluas cara pandangnya, memahami dunianya, dan memiliki kedaulatan atas pikirannya sendiri. Pendidikan memberi perempuan pilihan, dan memiliki pilihan adalah bentuk kemerdekaan yang paling nyata.
Dampak yang paling berbahaya adalah lahirnya rasa ragu pada diri anak perempuan kita. Mereka mulai bertanya pada diri sendiri: “Untuk apa saya berjuang belajar sampai malam kalau akhirnya potensi saya disempitkan hanya pada urusan domestik?” Narasi ini merusak kepercayaan diri dan secara tidak langsung melatih generasi mendatang untuk membatasi mimpi mereka sendiri sebelum sempat mencobanya.
Dapur, karir, laboratorium penelitian, ruang sidang, hingga panggung kebijakan publik semua adalah ruang yang sah untuk perempuan. Rumah tangga adalah kerja sama tim, bukan tempat menaruh satu pihak dalam sangkar sempit.
Menghargai pendidikan seorang perempuan berarti menghargai masa depan bangsa. Karena ketika kita mendukung seorang perempuan untuk belajar setinggi-tingginya, kita sebenarnya sedang membangun masyarakat yang lebih cerdas, empati, dan berdaya. Tidak ada ilmu yang terbuang, dan tidak ada mimpi perempuan yang pantas diciutkan hanya oleh narasi usang dari masa lalu.(*)










