Oleh : Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak
———————————————————————
Dosen Akuntansi S1 Universitas Negeri Makassar
PEMADAMAN listrik sering kali dipandang sebagai gangguan sederhana dalam aktivitas sehari-hari. Namun, bagi masyarakat perkotaan yang semakin bergantung pada teknologi, listrik bukan lagi sekadar kebutuhan rumah tangga, melainkan bagian penting dari hampir seluruh aktivitas ekonomi, pendidikan, pelayanan publik, dan pekerjaan.
Jadwal pengaturan beban listrik di sejumlah wilayah Makassar, menjadi pengingat bahwa keandalan listrik memiliki hubungan yang erat dengan produktivitas masyarakat. di satu sisi, pemeliharaan jaringan merupakan sesuatu yang tidak dapat dihindari.
Infrastruktur kelistrikan membutuhkan perawatan agar sistem tetap aman dan dapat berfungsi dalam jangka panjang. Karena itu, pemadaman yang dilakukan secara terencana tentu berbeda dengan gangguan listrik yang terjadi secara tiba-tiba. Persoalannya bukan semata-mata apakah listrik dipadamkan atau tidak, tetapi sejauh mana masyarakat memperoleh informasi yang cukup sehingga dapat menyesuaikan aktivitasnya.
Bagi dunia pendidikan, misalnya, pemadaman beberapa jam dapat memberikan dampak yang lebih besar daripada yang terlihat. Dosen yang sedang mengajar secara daring, mahasiswa yang mengerjakan tugas, tenaga administrasi yang mengakses sistem akademik, hingga kegiatan penelitian yang membutuhkan perangkat elektronik semuanya membutuhkan pasokan listrik yang stabil.
Hal yang sama berlaku bagi pelaku usaha. Transaksi digital, mesin produksi, sistem pembayaran, penyimpanan data, hingga komunikasi dengan pelanggan dapat terganggu ketika listrik terhenti.dari perspektif tata kelola, kondisi tersebut menunjukkan bahwa informasi merupakan bagian dari kualitas pelayanan publik. Ketika pemadaman memang diperlukan, informasi mengenai waktu, wilayah terdampak, serta estimasi durasi menjadi sangat penting.
Masyarakat yang mengetahui jadwal dapat mengatur pekerjaan, mengisi daya perangkat, memindahkan aktivitas tertentu, atau menyiapkan sumber listrik alternatif. Artinya, komunikasi yang baik dapat mengubah sebuah gangguan menjadi sesuatu yang lebih mudah dikelola.
Pemadaman listrik juga mengajarkan bahwa pembangunan infrastruktur tidak cukup hanya berorientasi pada penambahan kapasitas. Keandalan, pemeliharaan, keterbukaan informasi, dan kemampuan merespons kebutuhan masyarakat merupakan bagian yang sama pentingnya.
Infrastruktur yang baik bukan hanya infrastruktur yang tersedia, tetapi yang mampu mendukung masyarakat menjalankan aktivitasnya dengan gangguan seminimal mungkin. masyarakat tentu perlu memahami bahwa pemeliharaan jaringan merupakan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan layanan.
Namun, pada saat yang sama, penyedia layanan juga perlu melihat pemadaman dari sudut pandang masyarakat yang terdampak. Setiap jam tanpa listrik dapat memiliki konsekuensi ekonomi dan sosial yang berbeda bagi rumah tangga, mahasiswa, dosen, pekerja, maupun pelaku usaha.
Karena itu, jadwal pemadaman listrik di Makassar seharusnya tidak hanya dibaca sebagai pengumuman mengenai kapan lampu akan padam. Lebih jauh, informasi tersebut menjadi pengingat bahwa keandalan pelayanan publik dibangun melalui perpaduan antara infrastruktur yang terpelihara, komunikasi yang transparan, dan kemampuan memahami kebutuhan masyarakat.
Ketika ketiga hal tersebut berjalan bersama, pemeliharaan yang memang diperlukan tidak harus selalu dipersepsikan sebagai gangguan, tetapi dapat dipahami sebagai bagian dari upaya menjaga kualitas layanan dalam jangka panjang.(*)









