PLN Genjot Modifikasi Cuaca, Jaga Debit Air PLTA di Tengah Kemarau

PINGGIR PLN
FOTO: ASMIATI MUS //PEMERIKSAAN. Petugas melakukan pemeriksaan dan persiapan pesawat nirawak (drone) sebelum pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Kegiatan ini merupakan bagian dari langkah mitigasi PLN dalam menjaga ketersediaan sumber daya air dan mendukung keandalan pasokan listrik selama musim kemarau.
banner 468x60

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR— PT PLN (Persero) memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) sebagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau yang berpotensi menekan debit air sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di Sulawesi.

Program tersebut menyasar sejumlah PLTA strategis, di antaranya PLTA Poso dan PLTA Malea di Sulawesi Tengah serta PLTA Bakaru di Sulawesi Selatan. PLN menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait.

Kepala BPBD Sulawesi Tengah, Darma Metusela, mengatakan dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam memastikan pelaksanaan TMC berjalan optimal.“Dari pihak Pemda, kami terus mendampingi dan terlibat langsung sejak tahapan survei, pengkajian lokasi sasaran, hingga pelaksanaan eksekusi di lapangan,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Kata dia, operasi penyemaian awan telah direalisasikan di sejumlah titik, termasuk Meko dan Tokilo pada 20 September 2026. Pelaksanaan penyemaian terus disesuaikan dengan hasil observasi kondisi atmosfer untuk meningkatkan peluang terbentuknya hujan.

Di Sulawesi Selatan, dukungan TMC juga diarahkan untuk menjaga ketersediaan air di PLTA Malea yang memiliki kapasitas 90 MW. Pembangkit ini mengandalkan debit Sungai Saddang sehingga kegiatan modifikasi cuaca difokuskan pada wilayah tangkapan air sungai tersebut.

Sementara itu, PLN masih mematangkan persiapan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Mamasa untuk mendukung operasional PLTA Bakaru berkapasitas 126 MW.

Pelaksanaan OMC di kawasan tersebut direncanakan memanfaatkan teknologi pesawat nirawak atau drone. Dua lokasi operasional yang disiapkan yakni Bandara Sumarorong dan Puncak Pasir berdasarkan kajian kelayakan BMKG.

General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengatakan modifikasi cuaca menjadi salah satu upaya mitigasi PLN untuk menjaga ketersediaan air di tengah kemarau. “Teknologi Modifikasi Cuaca ini adalah bentuk ikhtiar nyata dalam mitigasi yang kami lakukan bersama Pemda dan BMKG untuk menjaga dan memulihkan debit air di sejumlah lokasi strategis, seperti PLTA Malea dan PLTA Bakaru,” katanya.

Ia berharap kolaborasi tersebut dapat membantu menjaga keandalan pasokan listrik bagi masyarakat di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat, terutama jika musim kemarau berlangsung panjang.

PLN memastikan koordinasi dengan BMKG, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan lainnya terus diperkuat sebagai bagian dari langkah menjaga kesinambungan operasional pembangkit berbasis energi air serta keandalan sistem kelistrikan di wilayah Sulawesi.

Pos terkait