- Bank Indonesia mencatat pembiayaan digital di Sulsel tetap tumbuh positif, sementara tingkat wanprestasi di atas 90 hari turun tajam dari 1,67% menjadi 0,04%.
- Meski nilai penyaluran pinjaman melambat dibandingkan triwulan sebelumnya, jumlah pengguna aktif fintech terus bertambah dan kualitas pembiayaan menunjukkan perbaikan.
- Outstanding pinjaman fintech turun menjadi Rp2,20 triliun, sedangkan rekening penerima pinjaman aktif bertambah 9.368 dalam satu triwulan.
RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Penyaluran pinjaman melalui layanan teknologi finansial atau financial technology (fintech) di Sulawesi Selatan tumbuh 12,44% secara tahunan (yoy) pada triwulan I 2026. Meski masih tumbuh positif, angka tersebut melambat dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 22,74%.
Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia Provinsi Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, memaparkan, secara nominal penyaluran pinjaman fintech pada triwulan I 2026 tercatat sebesar Rp629 miliar, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai Rp649 miliar.
“Meski secara nominal mengalami penurunan, jumlah rekening penerima pinjaman aktif justru menunjukkan peningkatan. Ini mengindikasikan bahwa pemanfaatan layanan pembiayaan berbasis teknologi digital di Sulawesi Selatan masih terus berkembang,” papar Rizki dalam laporan perekonomian Sulsel.
Adapun jumlah rekening penerima pinjaman aktif pada triwulan I 2026 tercatat sebanyak 634.781 rekening, meningkat dibandingkan triwulan IV 2025 yang mencapai 625.413 rekening. Dengan demikian, terdapat penambahan sebanyak 9.368 rekening aktif dalam satu triwulan.
Sementara itu, saldo pinjaman yang masih berjalan atau outstanding fintech di Sulsel juga mengalami penurunan. Pada triwulan I 2026, outstanding pinjaman tercatat sebesar Rp2,20 triliun, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar Rp2,39 triliun.
Rizki menjelaskan, dari sisi kualitas pembiayaan, risiko kredit fintech menunjukkan perbaikan signifikan. Hal tersebut tercermin dari penurunan Tingkat Wanprestasi 90 hari (TWP90) dari 1,67% pada triwulan IV 2025 menjadi 0,04% pada triwulan I 2026.
Penurunan TWP90 tersebut menunjukkan membaiknya kualitas pembiayaan fintech sekaligus semakin rendahnya tingkat pinjaman bermasalah dengan keterlambatan pembayaran lebih dari 90 hari.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pembiayaan fintech di Sulsel tetap tumbuh positif dengan basis pengguna yang meningkat, meskipun terjadi moderasi nominal penyaluran pinjaman.
Sejalan dengan kondisi tersebut, Rizki mengatakan, BI bersama para pemangku kepentingan terus memperkuat pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta ekonomi kreatif melalui berbagai program penguatan akses keuangan.
Salah satunya melalui penyelenggaraan Karya Kreatif Sulawesi Selatan dan South Sulawesi Digital Festival (KKS x DIGIFEST) 2026.
Program tersebut didorong oleh besarnya potensi ekonomi kreatif Sulsel, khususnya subsektor wastra, fesyen, kriya, dan kuliner yang memiliki nilai tambah tinggi serta didukung kekayaan budaya lokal.
Melalui KKS x DIGIFEST 2026, BI mendorong peningkatan kapasitas dan daya saing UMKM secara terintegrasi, mulai dari perluasan akses pasar domestik dan global, fasilitasi akses pembiayaan, penguatan ekonomi kreatif berbasis budaya, hingga perluasan pemanfaatan sistem pembayaran digital.
Upaya tersebut diharapkan mampu mendorong UMKM semakin produktif, memiliki akses lebih luas terhadap layanan keuangan formal, serta meningkatkan daya saing produk lokal.
Selain memperluas inklusi keuangan, penguatan UMKM dan ekonomi kreatif juga diharapkan menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus memperkuat ketahanan perekonomian Sulsel melalui diversifikasi kegiatan usaha dan perluasan pasar. (*)

















