Latsar, Kehamilan, dan Dedikasi: Ketika Menjadi Abdi Negara Berjalan Beriringan dengan Menjadi Seorang Ibu

ayu
Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.

Oleh: Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.
———————————————————————
Dosen Pendidikan Akuntansi, Universitas Negeri Makassar

SIAPA sangka, fase transisi menjadi abdi negara yang sering dibayangkan sebagai barisan disiplin, seragam rapi, dan agenda padat justru saya lalui bersama dua detak jantung yang berbeda.

Satu adalah detak jantung janin yang tumbuh di rahim, dan yang lainnya adalah detak ambisi untuk menuntaskan tanggung jawab sebagai seorang dosen muda. Bagi saya, Latsar CPNS bukan sekadar pelatihan birokrasi, melainkan sebuah pelampauan diri di mana ruang kelas universitas dan ruang diklat pelatihan melebur menjadi satu arena pengabdian.

Bacaan Lainnya

Ketika layar laptop menjadi jendela satu-satunya selama fase daring, saya sering mendapati diri saya sedang bergelut dengan rasa lelah fisik di depan kamera yang mati. Ada ironi yang indah sekaligus menantang di sana; saat saya sedang membedah modul kebijakan publik dan nilai-nilai dasar ASN, tubuh saya sedang sibuk membentuk kehidupan.

Saya belajar tentang nilai akuntabilitas bukan hanya dari buku teks yang biasa saya ajarkan kepada mahasiswa, tetapi dari bagaimana saya harus tetap bertanggung jawab menjaga ritme janin sembari mengejar tenggat tugas yang menumpuk. Di saat itulah saya sadar, menjadi dosen bukan berarti berhenti menjadi pembelajar.

Lalu, fase itu beralih ke luring. Jika banyak peserta lain mengkhawatirkan ujian atau kerapian atribut, pikiran saya sering kali terbang ke rumah, ke arah bayi mungil yang baru saja menyapa dunia. Menjadi dosen muda sekaligus ibu baru adalah sebuah perpaduan peran yang tidak pernah diajarkan dalam buku teks manajemen mana pun.

Ada hari-hari di mana saya harus mengatur jadwal memerah ASI di sela-sela jeda diskusi, atau mencoba tetap tegak saat mata terasa berat karena semalam suntuk menenangkan tangis bayi. Peran saya sebagai pengajar di kampus kini bertambah dengan peran sebagai ibu, dan keduanya menuntut ketulusan yang sama besar.

Orang mungkin melihat ini sebagai beban, namun bagi saya, ini adalah bentuk dedikasi yang paling murni. Di ruang-ruang diskusi Latsar, saya tidak hanya belajar tentang tata kelola pemerintahan, tetapi juga belajar tentang manajemen hambatan yang akan saya bawa ke ruang kuliah nanti.

Kehamilan dan proses menjadi ibu pascapersalinan mengajarkan saya arti adaptasi yang sesungguhnya. Jika dalam teori ekonomi atau pendidikan yang saya ajarkan adaptasi adalah tentang mengikuti perubahan lingkungan, maka dalam praktik nyata, saya belajar bahwa adaptasi adalah tentang tetap tegak berdiri meski pondasi fisik sedang tidak menentu.

Saya ingin membuktikan bahwa menjadi abdi negara sekaligus pendidik tidak harus menanggalkan sisi manusiawi kita. Seorang ibu yang sedang menuntaskan kewajiban profesionalnya tidak mengurangi setitik pun kapasitasnya untuk melayani negeri.

Justru, kehadiran anak saya menjadi kompas moral baru; setiap keputusan yang saya ambil nanti di meja dosen atau di ruang riset, kini membawa beban tanggung jawab yang lebih besar karena saya sedang bekerja untuk masa depan, termasuk masa depan anak saya sendiri.

Latsar bukan sekadar tentang sertifikat atau status kepegawaian. Namun, ini adalah perjalanan panjang tentang bagaimana saya belajar membagi diri, menjadi pengabdi negara yang tangguh tanpa harus kehilangan kelembutan sebagai seorang ibu.

Pada akhirnya, saya menyadari satu hal, seragam yang saya kenakan mungkin sama dengan yang lain, namun di balik kain itu, ada jejak keberanian yang tak terlihat. Ada keberanian untuk melangkah di dua dunia sekaligus, dan keyakinan bahwa menjadi ibu bukanlah penghalang untuk mengabdi, melainkan bahan bakar yang membuat dedikasi saya sebagai seorang dosen muda terasa jauh lebih bermakna.(*)

Pos terkait