Emas: Bisikan Ketenangan di Tengah Hiruk-Pikuk Krisis

ayu
Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.

Oleh: Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.
——————————————————————–
Dosen Pendidikan Akuntansi, Universitas Negeri Makassar

DI SETIAP sudut sejarah manusia, saat dunia mendadak terasa genting dan saat layar monitor bursa saham memerah, mata uang kehilangan taringnya, dan kecemasan mulai menyelinap ke ruang tamu setiap rumah ada satu benda yang selalu dicari manusia dengan naluri yang hampir purba yaitu emas.

Kita sering kali melihat emas sebagai sekadar angka-angka yang melompat di kolom berita ekonomi atau tren investasi yang sedang naik daun. Namun, jika kita berhenti sejenak dan menanggalkan kacamata dingin para analis, emas sesungguhnya bukanlah tentang persentase keuntungan. Emas adalah tentang kebutuhan dasar manusia akan rasa aman di tengah dunia yang makin abstrak.

Bacaan Lainnya

Mengapa emas selalu menjadi primadona saat krisis? Jawabannya mungkin tidak melulu soal logika ekonomi yang kaku atau rumus matematika pasar modal. Ada sisi psikologis yang sangat manusiawi di baliknya.

Dalam sebuah krisis, kepercayaan sebagai fondasi ekonomi modern sering kali menguap. Ketika sistem keuangan yang kita agungkan mulai menunjukkan retakan, manusia secara naluriah mencari sesuatu yang bisa disentuh, sesuatu yang tidak memiliki “kontrak” dengan kebijakan politik atau ketegangan geopolitik. Emas menawarkan apa yang tidak bisa diberikan oleh saldo digital: kepastian fisik yang jujur.

Ada kehangatan tersendiri saat menggenggam logam mulia, sekecil apa pun itu. Ia tidak membutuhkan izin akses, tidak terikat pada algoritma suku bunga bank sentral, dan tidak bisa “dihapus” oleh guncangan siber. Emas adalah pengingat bahwa di balik kompleksitas dunia keuangan yang rumit dan penuh tipu daya, kita masih memiliki sesuatu yang nyata.

Ia adalah “bahasa” universal yang dimengerti oleh kakek buyut kita, dan akan tetap dimengerti oleh anak-cucu kita ribuan tahun ke depan. Dalam kondisi ekonomi yang tidak menentu, emas berperan seperti pelabuhan bagi kapal yang sedang diterjang badai.

Kita tidak mencari emas untuk bermimpi menjadi kaya mendadak di tengah krisis; kita mencarinya sebagai bentuk “pemenangan” kecil atas kecemasan. Kita ingin memastikan bahwa di akhir hari nanti, apa yang kita miliki masih memiliki nilai yang bisa ditukar dengan sesuap nasi atau tempat berlindung.

Emas menjadi primadona bukan karena ia “hebat” dalam memberikan imbal hasil yang melangit, melainkan karena ia setia. Di dunia yang makin berisik oleh spekulasi dan janji-janji kemakmuran yang rapuh, emas tetap diam. Ia adalah cermin dari ketahanan diri kita sendiri.

Mungkin inilah alasan mengapa, meskipun dunia telah bertransformasi menjadi serba digital dan serba cepat, emas tetap bertahan. Di dunia yang sering kali terlalu sibuk dengan bayang-bayang aset yang tak terlihat, emas tetap membumi pada esensinya sebagai simbol ketenangan.

Ia bukan sekadar aset melain seperti pelukan hangat yang meyakinkan kita bahwa, sesulit apa pun kondisi ekonomi hari ini, selalu ada titik terang yang nyata sesuatu yang akan tetap ada untuk menjaga martabat hidup kita hingga hari esok tiba.(*)

 

Pos terkait