RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Pertarungan menuju Pemilihan Legislatif (Pileg) 2029 di Daerah Pemilihan (Dapil) Sulawesi Selatan (Sulsel) 1 mulai menunjukkan tanda-tanda memanas. Sejumlah nama besar di kancah perpolitikan Sulsel dipastikan akan turun gelanggang.
Delapan petahana yang berhasil mengamankan kursi DPR RI pada Pileg 2024 kini berpotensi menghadapi tantangan dari sejumlah figur dengan modal politik dan jaringan yang tidak kalah kuat. Dapil Sulsel I meliputi Makassar, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, dan Selayar.
Para petahana tersebut yakni Rudianto Lallo dari NasDem dengan 97.597 suara, Hamka B Kady dari Golkar 119.558 suara, Meity Rahmatia dari PKS 97.783 suara, Azikin Sholtan dari Gerindra 54.667 suara, Ashabul Kahfi dari PAN 92.606 suara, Ridwan Andi Wittiri dari PDIP 80.364 suara, Syamsu Rizal MI dari PKB 48.794 suara, serta Achmad Dg Serre dari NasDem dengan 19.071 suara.
Di tengah kekuatan para petahana, sejumlah nama mulai muncul sebagai penantang potensial. Dari NasDem, ada Andi Rachmatika Dewi alias Cicu. Golkar juga memiliki dua figur yang punya pengalaman panjang di panggung politik Sulsel, yakni Ketua Golkar Sulsel Ilham Arief Sirajuddin (IAS) dan Sekretaris Golkar Sulsel Rahman Pina.
Tidak hanya itu, mantan Bupati Gowa Adnan Purichta Ichsan juga masuk dalam radar persaingan melalui Partai Demokrat. Kemudian mantan Wali Kota Makassar dua periode Mohammad Ramdhan Danny Pomanto dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Sementara PSI berpotensi mengandalkan Ketua DPW Muammar Ferirae Gandi Rusdi untuk memperkuat pertarungan. Ada juga dua Legislator Partai Gerindra DPRD Sulsel, yakni Fadel Muhammad Tauphan Ansar dan Vonny Ameliani Suardi.
Direktur Profetik Institute, Muhammad Asratillah, menilai kemunculan para penantang ini membuat pertarungan Sulsel 1 tidak sekadar menjadi kompetisi antarpartai, tetapi juga perang figur. Rekam jejak, jaringan politik, popularitas, mesin partai hingga kemampuan membangun basis suara baru bakal menjadi modal penting.
Apalagi, menurut Asratillah, para figur penantang membawa modal politik yang berbeda. Rachmatika memiliki pengalaman legislatif dan posisi strategis di DPRD Sulsel. IAS memiliki rekam jejak panjang dalam politik Makassar dan Sulsel. Rahman Pina ditopang jaringan Golkar serta pengalaman politik yang cukup panjang.
Sementara Adnan Purichta Ichsan membawa pengalaman sebagai mantan kepala daerah sekaligus basis politik keluarga Ichsan Yasin Limpo. Apalagi, Mohammad Ramdhan Danny Pomanto yang punya modal sosial dan politik sebagai mantan Wali Kota Makassar dan mantan calon Gubernur Sulsel.
Muammar Ferirae Gandi Rusdi hadir dengan karakter generasi politik yang lebih muda dan masih memiliki ruang luas untuk membangun identitas elektoral. Ada juga dua Legislator Partai Gerindra DPRD Sulsel, yakni Fadel Muhammad Tauphan Ansar dan Vonny Ameliani Suardi.
“Jadi, saya tidak melihat mereka hanya sebagai penantang, tetapi sebagai figur yang berpotensi mengubah keseimbangan kompetisi,” katanya.
Dengan komposisi tersebut, Asratillah, menilai Sulsel I berpotensi menjadi salah satu arena pertarungan paling kompetitif di Sulawesi Selatan. Kompetisi tidak hanya mempertemukan petahana dengan pendatang baru, tetapi juga memperhadapkan kekuatan elektoral yang telah teruji dengan figur yang tengah melakukan ekspansi politik.
“Nama besar saja tidak cukup. Kandidat harus memiliki organisasi, jaringan saksi, sumber daya politik dan kemampuan mengubah popularitas menjadi suara nyata. Karakter politik yang heterogen membuat kandidat dituntut memiliki lebih dari sekadar popularitas,” terang Asratillah.
Lebih jauh, Asratillah mengingatkan delapan petahana tidak bisa menganggap kursi yang telah diraih pada Pemilu 2024 sebagai jaminan untuk kembali lolos pada 2029. Petahana memang memiliki keunggulan berupa popularitas, pengalaman, akses kelembagaan dan jaringan politik.
Namun, seluruh modal tersebut bisa mengalami depresiasi jika tidak diikuti hubungan politik yang kuat dengan konstituen selama lima tahun.
“Dalam politik elektoral, suara pemilu sebelumnya bukan tabungan yang bisa dicairkan pada pemilu berikutnya. Pemilih bisa berubah, preferensi partai bisa berubah dan konfigurasi elite juga bisa berubah,” tegasnya.(*)
PETAHANA
—————-
– Rudianto Lallo – 97.597 (NasDem)
– Hamka B Kady – 119.558 (Golkar)
– Meity Rahmatia – 97.783 (PKS)
– Azikin Sholtan – 54.667 (Gerindra)
– Ashabul Kahfi – 92.606 (PAN)
– Ridwan Andi Wittiri – 80.364 (PDIP)
– Syamsu Rizal MI – 48.794 (PKB)
– Achmad Dg Serre – 19.071 (NasDem)
PENANTANG
—————–
– Andi Rachmatika Dewi (NasDem)
– Ilham Arief Sirajuddin (Golkar)
– Rahman Pina (Golkar)
– Adnan Purichta Ichsan (Demokrat)
– Mohammad Ramdhan Danny Pomanto (PDIP)
– Muammar Ferirae Gandi Rusdi (PSI)
– Vonny Ameliani Suardi (Gerindra)
– Fadel Muhammad Tauphan Ansar (Gerindra)














