Kuliner Halal RI Makin Mendunia

Screenshot 20261015 112833 Gallery scaled
banner 468x60
  • Peringkat ketiga dunia jadi modal, Indonesia perluas akses pasar kuliner halal ke 43 negara
  • BI perkuat UMKM lewat IKRA, sertifikasi dan kualitas produk jadi kunci persaingan global
  • IN2HCC di ISEF 2026 memprtemukan juru masak profesional dan UMKM untuk mengangkat cita rasa nusantara

RUANGAKSELERASI.ID, JAKARTA — Indonesia semakin memperkuat posisinya dalam industri halal dunia. Kekayaan kuliner Nusantara, besarnya pasar domestik, serta pengakuan standar halal di puluhan negara menjadi modal penting bagi Indonesia untuk memperluas pemasaran produk makanan halal ke pasar internasional.

Dalam laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) 2025/2026, Indonesia menempati peringkat ketiga dunia pada sektor makanan halal. Posisi tersebut naik satu peringkat dibandingkan periode sebelumnya, mencerminkan potensi besar industri kuliner nasional di tengah persaingan pasar global.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian RI, hingga 14 Oktober 2026, Indonesia memiliki 123 perjanjian pengakuan halal atau Mutual Recognition Arrangement (MRA) dengan Lembaga Halal Luar Negeri (LHLN) yang mencakup 43 negara.

Bacaan Lainnya

Capaian tersebut menjadi salah satu modal untuk memperluas akses pasar produk kuliner Indonesia. Namun, peluang itu perlu diikuti penguatan kualitas, produktivitas usaha, konsistensi mutu, serta pemenuhan standar halal agar produk lokal mampu bersaing secara berkelanjutan.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Filianingsih Hendarta, menyampaikan hal tersebut saat membuka International Halal Chef Competition (IN2HCC) dalam rangkaian Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-13 Tahun 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta, Rabu (14/10/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Ahmad Haikal Hasan, Presiden Islamic Chef and Culinary of Indonesia (ICCI) Adie Miartadi, serta sejumlah duta besar negara sahabat.

Indonesia Bidik Peluang Pasar Kuliner Halal Dunia

Ajang IN2HCC mempertemukan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), juru masak halal profesional, serta pelaku industri kuliner dari berbagai negara. Kompetisi ini juga menjadi sarana untuk mengangkat kekayaan cita rasa Nusantara sekaligus mendorong inovasi produk kuliner berbasis bahan baku lokal.

Penguatan industri makanan halal dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan resep dan keragaman bahan pangan Indonesia. Pelaku usaha juga perlu meningkatkan standar produksi, menjaga konsistensi rasa dan kualitas, serta memastikan proses pengolahan memenuhi ketentuan halal.

Dengan demikian, produk kuliner Indonesia tidak hanya memiliki daya tarik dari sisi cita rasa, tetapi juga mampu membangun kepercayaan konsumen di pasar internasional.

Pengakuan halal lintas negara menjadi salah satu faktor yang dapat membantu memperluas peluang pemasaran. Meski demikian, pelaku usaha tetap perlu memenuhi ketentuan yang berlaku di negara tujuan, termasuk persyaratan teknis, mutu, keamanan pangan, dan ketentuan impor.

Kompetensi Juru Masak Jadi Kunci Daya Saing

Presiden ICCI Adie Miartadi menekankan pentingnya kompetensi sumber daya manusia dalam mengembangkan industri kuliner halal. Juru masak yang memahami standar halal memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas produk sekaligus mendorong lahirnya inovasi menu yang kompetitif.

Penguatan kemampuan juru masak perlu berjalan seiring dengan pemanfaatan bahan baku halal berkualitas dan pengembangan menu yang mengangkat identitas kuliner Indonesia.

Kolaborasi antara pelaku usaha, komunitas kuliner, pemerintah, dan lembaga terkait juga dinilai dapat membuka peluang usaha baru serta memperluas penyerapan tenaga kerja.

Dengan dukungan sumber daya manusia yang kompeten, industri kuliner halal diharapkan mampu menciptakan produk bernilai tambah yang tidak hanya diminati pasar domestik, tetapi juga memiliki peluang berkembang di pasar internasional.

BPJPH: Halal Bukan Pembatasan

Kepala BPJPH Ahmad Haikal Hasan menegaskan bahwa konsep halal tidak semestinya dipahami sebagai pembatasan bagi kelompok masyarakat tertentu. Menurutnya, halal juga berkaitan dengan kesadaran konsumen terhadap kualitas produk dan kepercayaan terhadap proses produksinya.

“Masyarakat agar menyambut dan mendukung kehalalan produk kuliner secara positif dan damai, karena sejatinya kehalalan dapat memperkuat kepercayaan dan loyalitas bagi masyarakat, sehingga berdampak terhadap ekosistem pengembangan produk halal,” ajaknya.

Pemenuhan standar dan sertifikasi halal menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan tersebut. Bagi pelaku usaha, kepatuhan terhadap ketentuan halal juga perlu didukung tata kelola produksi yang baik, ketersediaan bahan baku yang terjamin, serta pengawasan mutu secara konsisten.

Ekosistem yang terintegrasi diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperkuat identitas kuliner halal Indonesia di tengah persaingan global.

BI Perkuat UMKM Kuliner Halal Lewat IKRA

Bank Indonesia terus mendukung pengembangan UMKM makanan dan minuman halal melalui program Industri Kreatif Syariah (IKRA) Indonesia. Program tersebut antara lain mencakup pendampingan untuk meningkatkan produktivitas usaha, memperluas akses pasar, dan memperkuat jejaring bisnis.

Dukungan tersebut diarahkan agar pelaku UMKM mampu meningkatkan kapasitas produksi dan memperbaiki kualitas produk sesuai kebutuhan pasar. Pemanfaatan teknologi digital juga menjadi salah satu aspek penting untuk memperluas promosi, memperkuat pemasaran, serta menjangkau konsumen yang lebih luas.

Ke depan, BI akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah, pelaku usaha, komunitas kuliner, dan mitra strategis lainnya dalam membangun ekosistem kuliner halal yang berdaya saing.

Upaya tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan berusaha, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kontribusi UMKM dalam rantai nilai industri halal nasional maupun global.

ISEF 2026 Hadirkan Ratusan Menu Halal Nusantara

Rangkaian ISEF ke-13 Tahun 2026 berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Berbagai kegiatan dihadirkan untuk memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah sekaligus memperkenalkan potensi industri halal Indonesia kepada masyarakat.

Salah satu daya tariknya adalah area Halalicious yang menyajikan ratusan pilihan makanan dan minuman halal dari berbagai daerah di Indonesia.

Kehadiran area tersebut menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati keragaman kuliner Nusantara sekaligus mengenal produk-produk halal dari pelaku usaha lokal.

Dengan posisi ketiga dunia pada sektor makanan halal, Indonesia memiliki peluang untuk memperkuat perannya dalam industri halal internasional. Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas produk, perluasan pasar, pertumbuhan UMKM, dan penciptaan lapangan kerja.

Melalui kolaborasi lintas sektor, inovasi kuliner, penguatan kompetensi sumber daya manusia, serta pemenuhan standar halal, kuliner Nusantara diharapkan semakin dikenal dan mampu bersaing di pasar global.(*)

Pos terkait