Pembiayaan ESG BSI Tembus Rp78,6 Triliun, Bisnis Berkelanjutan Makin Menguat

BSI
FOTO: INT// PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI)
banner 468x60
  • BSI memperkuat komitmen terhadap ekonomi berkelanjutan melalui pembiayaan ramah lingkungan, penerbitan sukuk berkelanjutan, serta penguatan tata kelola perusahaan yang transparan dan akuntabel.
  • Pemberdayaan UMKM menjadi salah satu fokus bisnis berkelanjutan BSI, dengan ribuan pelaku usaha berhasil naik kelas dari segmen KUR Mikro menuju KUR Kecil hingga pembiayaan komersial.
  • Pembiayaan inklusif makroprudensial BSI mencapai 33,65 persen, melampaui target 30 persen, sementara pembiayaan UMKM berkontribusi 16,25 persen terhadap total portofolio perseroan.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) terus memperkuat pembiayaan berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai bagian dari komitmen terhadap kelestarian lingkungan dan bisnis berkelanjutan.

Hingga Juni 2026, portofolio pembiayaan ESG BSI mencapai Rp78,6 triliun atau 23,1% dari total pembiayaan, tumbuh 7,09% dibandingkan periode sebelumnya. Pembiayaan tersebut terdiri atas Green Financing sebesar Rp17,4 triliun dan Social Financing sebesar Rp61,2 triliun.

Wakil Direktur Utama BSI, Bob T Ananta, mengatakan komitmen keberlanjutan perusahaan ditopang tiga pilar ESG, yakni sustainable banking, operation & beyond banking, serta business enablers.

Bacaan Lainnya

“Kami membuktikan bahwa komitmen terhadap bisnis berkelanjutan membuat portofolio bisnis menjadi nyata dan tumbuh sehat,” kata Bob dalam keterangan resminya.

Dari sisi pendanaan, BSI juga memperkuat instrumen keuangan berkelanjutan melalui penerbitan Sustainable Sukuk. Total penerbitan sukuk berkelanjutan tersebut mencapai Rp10 triliun, dengan Rp8 triliun di antaranya merupakan Sustainable Sukuk.

“Bagi BSI, keberlanjutan merupakan bagian dari amanah untuk menghadirkan kemaslahatan yang lebih luas. Karena itu, pertumbuhan bisnis harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab sosial, perlindungan lingkungan, tata kelola yang baik, serta penciptaan nilai ekonomi yang inklusif,” kata Bob.

Penguatan bisnis berkelanjutan juga dilakukan melalui pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Segmen ini menjadi bagian penting dalam ekosistem ekonomi syariah karena berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan pemerataan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

BSI mencatat rasio pembiayaan inklusif makroprudensial (RPIM) mencapai sekitar 33,65%, melampaui target 30%. Sementara itu, pembiayaan UMKM berkontribusi sekitar 16,25% terhadap total portofolio pembiayaan perseroan.

Dalam pengembangan usaha, sekitar 17 ribu UMKM penerima KUR Mikro telah naik ke segmen KUR Kecil dan komersial. Selain itu, sekitar 4.000 UMKM dari segmen KUR Kecil berhasil masuk ke segmen komersial, sedangkan sekitar 1.000 UMKM lainnya naik dari segmen mikro ke segmen small and medium enterprise (SME).

BSI juga mengembangkan inovasi pembiayaan hijau melalui Sustainability-Linked Financing senilai Rp1,5 triliun untuk Tol Bali Mandara. Komitmen sosial dan lingkungan turut diwujudkan melalui penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF), penggunaan kendaraan operasional ramah lingkungan, serta penerapan carbon tracking.

Bob menegaskan, seluruh inisiatif tersebut berjalan seiring dengan penguatan Good Corporate Governance (GCG). Penerapan tata kelola yang baik menjadi landasan agar aktivitas bisnis perusahaan berlangsung transparan, akuntabel, bertanggung jawab, independen, dan sesuai prinsip kehati-hatian. (*)

Pos terkait