Dari Limbah Ternak Jadi Energi, Kampung Saukang Raih Silver Awards
RUANGAKSELERASI ID, MAKASSAR— Apa yang selama ini dianggap sebagai limbah justru menjadi sumber energi bagi warga Dusun Bakae, Desa Saukang, Kabupaten Sinjai.
Kotoran ternak diolah menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga, sementara hasil pengolahannya dimanfaatkan menjadi pupuk organik.
Inovasi tersebut dikembangkan melalui program Kampung Energi Mandiri Saukang yang digagas PLN UID Sulselrabar bersama Yayasan Peduli Bangsa (YPB) Sinjai, pemerintah setempat, dan masyarakat.Program yang mengubah persoalan limbah peternakan menjadi energi bersih itu mendapat apresiasi di tingkat nasional. Kampung Energi Mandiri Saukang meraih Silver dalam ajang CSR dan Pengembangan Desa Berkelanjutan (PDB) Awards 2026.
Penghargaan tersebut diselenggarakan Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal bersama Indonesia Social Sustainability Forum (ISSF) di Kantor Kemendes PDT, Jakarta Selatan, Senin (28/9).
Penghargaan diberikan atas kontribusi program dalam mendorong pembangunan desa yang berkelanjutan, khususnya melalui pemanfaatan potensi lokal untuk memperkuat aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan.
Di Saukang, aktivitas peternakan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat tidak hanya menghasilkan ternak, tetapi juga menyimpan potensi energi. Melalui pengelolaan yang tepat, limbah ternak yang sebelumnya berpotensi mencemari lingkungan kini memiliki nilai guna baru.
PLN menghadirkan satu unit digester biogas berkapasitas 12 meter kubik, satu kandang sapi komunal, serta jaringan biogas yang dimanfaatkan 10 rumah tangga.
Masyarakat juga mendapat pelatihan dan pendampingan untuk mengoperasikan dan merawat instalasi tersebut. Dengan demikian, program tidak berhenti pada pemberian fasilitas, tetapi diarahkan agar masyarakat mampu mengelola sumber daya yang mereka miliki secara mandiri.
General Manager PLN UID Sulselrabar, Edyansyah, mengatakan penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi PLN untuk terus menghadirkan program TJSL yang berangkat dari kebutuhan dan potensi masyarakat.
“Melalui Kampung Energi Mandiri Saukang, PLN mendukung masyarakat mengolah potensi yang tersedia di sekitarnya menjadi sumber energi bersih dan peluang ekonomi,” kata Edyansyah.
Dia menilai, limbah ternak yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal kini dapat digunakan untuk kebutuhan memasak. Sementara hasil pengolahannya dimanfaatkan menjadi pupuk organik.
“Penghargaan ini menjadi semangat bagi kami untuk terus memperkuat kolaborasi agar masyarakat semakin mandiri dalam mengelola sumber daya desanya,” ujarnya.
Konsep yang diterapkan di Saukang juga memperlihatkan bagaimana satu persoalan dapat melahirkan manfaat di beberapa sektor sekaligus. Limbah peternakan diolah menjadi energi untuk rumah tangga, sementara hasil sampingnya kembali dimanfaatkan untuk mendukung pertanian.
Pola tersebut membentuk sebuah siklus pemanfaatan sumber daya lokal yang lebih produktif. Peternakan, energi, dan pertanian tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu ekosistem ekonomi sirkular.
Bagi masyarakat desa, kehadiran energi dari sumber lokal juga membuka peluang untuk mengurangi ketergantungan terhadap sumber energi konvensional sekaligus meningkatkan kesadaran menjaga lingkungan.
Program ini menjadi contoh bahwa inovasi energi tidak selalu harus dimulai dari teknologi berskala besar. Dari lingkungan desa, bahkan dari limbah yang setiap hari dihasilkan ternak, dapat lahir solusi yang menyentuh kebutuhan paling dekat dengan masyarakat.
CSR dan PDB Awards 2026 sendiri memberikan penghargaan kepada 61 perusahaan dengan 74 program yang dinilai berkontribusi terhadap pembangunan perdesaan berkelanjutan.
Bagi PLN UID Sulselrabar, penghargaan Silver tersebut menjadi penguat komitmen untuk mengembangkan program TJSL berbasis potensi lokal.
Kampung Energi Mandiri Saukang pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang biogas. Ini adalah cerita tentang bagaimana masyarakat desa belajar melihat kembali apa yang ada di sekelilingnya mengubah limbah menjadi energi, energi menjadi manfaat, dan potensi lokal menjadi langkah menuju kemandirian. (Mm)

















