Kelangkaan BBM Gerus Omzet Logistik

Kelangkaan BBM Gerus Omzet Logistik
FOTO: DOK. //KALLA. Distribusi barang konsumsi atau fast-moving consumer goods (FMCG) ke jaringan ritel menjadi salah satu yang terdampak dari kelangkaan BBM.
banner 468x60

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Kelangkaan dan panjangnya antrean bahan bakar minyak (BBM) mulai memberikan tekanan serius terhadap sektor logistik di Sulawesi Selatan. Selain menghambat mobilitas armada, kondisi tersebut ikut memangkas omzet perusahaan hingga meningkatkan biaya operasional.

General Logistics Senior Manager Kalla Translog, Fardi Gaffar, mengatakan dampak kelangkaan BBM terhadap pelaku usaha logistik cukup signifikan. Kata dia, penurunan omzet saat ini berkisar 30% hingga 50%.

“Penurunan omzet pelaku usaha logistik mengalami penurunan antara 30 hingga 50% akibat berkurangnya frekuensi perjalanan dan biaya operasional yang bertambah,” katanya saat dikonfirmasi Upeks, Senin (14/9/2026).

Bacaan Lainnya

Persoalan BBM, sambung dia, tidak hanya berdampak pada perjalanan armada, tetapi juga mulai mengganggu tingkat layanan atau Service Level Agreement (SLA) perusahaan logistik.

Distribusi barang konsumsi atau fast-moving consumer goods (FMCG) ke jaringan ritel menjadi salah satu yang terdampak. Keterlambatan pengiriman membuat pasokan barang di toko-toko berkurang dan berpotensi mendorong kenaikan harga apabila kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama.

Fardi mengungkapkan, waktu tunggu armada untuk mendapatkan BBM di sejumlah daerah bahkan kini bisa lebih lama dibandingkan waktu tempuh perjalanan.

Dia mencontohkan perjalanan pulang-pergi Makassar-Palu yang dalam kondisi normal dapat diselesaikan sekitar empat hari. Namun, saat ini waktu tunggu akibat antrean BBM dapat mencapai enam hari.

“Durasi antrean BBM di SPBU kini jauh lebih lama dibandingkan waktu tempuh perjalanan itu sendiri,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat frekuensi atau ritase armada ikut merosot. Jika sebelumnya satu armada bisa melakukan perjalanan sekitar lima hingga enam kali dalam sebulan, kini hanya mampu dua hingga tiga kali.

“Penurunan retasi tersebut secara langsung berdampak terhadap produktivitas armada dan pendapatan perusahaan,” jelas dia.

Di sisi lain, biaya operasional juga ikut membengkak. Perusahaan harus menanggung biaya tambahan untuk pengemudi, termasuk akomodasi dan konsumsi selama armada tertahan di daerah yang mengalami antrean BBM.

Tekanan biaya semakin besar ketika armada terpaksa menggunakan BBM nonsubsidi untuk mengejar waktu operasional.

“Keterbatasan BBM di rute balik membuat armada dituntut segera kembali beroperasi tepat waktu. Perusahaan terpaksa membeli BBM nonsubsidi seperti Dexlite atau BBM eceran yang harganya lebih tinggi dibandingkan BBM subsidi,” jelas Fardi.

Selain biaya BBM, waktu yang terbuang selama antrean juga menjadi beban tersendiri. Tidak jarang stok BBM habis ketika giliran armada hampir tiba, sehingga kendaraan harus kembali menunggu pasokan berikutnya.

Situasi tersebut, kata Fardi, pada akhirnya menggerus margin keuntungan perusahaan logistik.

Dia mengingatkan, jika antrean BBM berlangsung berkepanjangan, dampaknya tidak berhenti pada perusahaan logistik. Kata dia, gangguan dapat menjalar ke seluruh rantai pasok dan perekonomian daerah.

Terhambatnya pengiriman FMCG ke jaringan ritel dan toko-toko kecil berpotensi menimbulkan kekurangan stok. Jika pasokan tidak mampu mengimbangi permintaan, harga barang kebutuhan pokok dan bahan makanan berisiko ikut meningkat.

“Penurunan SLA dari perusahaan logistik menimbulkan efek domino pada seluruh ekosistem rantai pasok,” katanya.

Menurutnya, persoalan tersebut juga berpotensi menekan pendapatan pekerja harian, terutama sektor informal dan transportasi. Waktu produktif pengemudi yang tersita untuk mengantre BBM secara otomatis mengurangi pendapatan mereka.

Di tingkat masyarakat, antrean panjang juga berpotensi memunculkan persoalan sosial. Lamanya waktu tunggu dalam kondisi panas dan kelelahan dapat meningkatkan emosi pengguna kendaraan dan memicu gesekan di antara pengantre.

Untuk itu, dia berharap persoalan pasokan dan distribusi BBM segera mendapatkan solusi. Sebab, semakin lama gangguan berlangsung, semakin besar pula tekanan terhadap biaya logistik dan rantai pasok di Sulsel.

“Risikonya bukan hanya keterlambatan pengiriman, tetapi juga kerugian finansial bagi pelaku usaha. Ketika omzet sudah turun hingga 50 persen sementara biaya operasional meningkat, posisi bisnis bisa semakin tertekan,” kunci dia. (*)

Pos terkait