Herman Khaeron: Jangan Bertarung Sesama Kader, Demokrat Harus Siap Hadapi 2029

IMG 20261023 WA0029
banner 468x60
  • Musda bukan ajang perebutan kekuasaan internal, Herman Khaeron mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya pada 2029 adalah persaingan dengan partai lain.
  • Herman menjelaskan mekanisme pergantian kepemimpinan dan menegaskan pengurus demisioner tetap dapat menjalankan operasional partai selama masa transisi.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Demokrat, Herman Khaeron, menegaskan Musyawarah Daerah (Musda) V Partai Demokrat Sulawesi Selatan bukan ajang kontestasi untuk memperebutkan kekuasaan internal, melainkan momentum memperkuat konsolidasi organisasi menghadapi Pemilu 2029.

Pesan tersebut disampaikan Herman saat memberikan sambutan pada Musda V Partai Demokrat Sulsel di Hotel Claro Makassar, Jumat (23/10/2026).

Di hadapan jajaran pengurus dan kader Demokrat, Herman mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya pada Pemilu 2029 bukanlah persaingan antarkader, tetapi kompetisi dengan partai politik lain.

Bacaan Lainnya

“Pada akhirnya nanti 2029 itu kita bukan bertarung sesama kader, tetapi pertarungan dengan partai-partai lain. Partai lain juga mempersiapkan strategi dan cara,” tegasnya.

Karena itu, ia meminta seluruh kader menjadikan Musda sebagai titik awal membangun kembali kebersamaan, merapatkan barisan, serta memperkuat kekuatan partai di Sulawesi Selatan.

Menurut Herman, konsolidasi yang dilakukan sejak dini penting agar Demokrat memiliki persiapan matang dalam menghadapi tahapan dan persaingan politik mendatang.

Luruskan Alasan Percepatan Musda

Dalam sambutannya, Herman juga menjelaskan alasan pelaksanaan Musda yang dipercepat. Ia menegaskan, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi konsolidasi nasional untuk mempersiapkan partai menghadapi Pemilu 2029, bukan karena kepentingan lain.

Ia menyebut, ketentuan dalam AD/ART Partai Demokrat telah mengatur pelaksanaan musyawarah daerah luar biasa dalam konteks percepatan konsolidasi organisasi.

Menurutnya, keputusan mempercepat Musda tidak terlepas dari pengalaman sebelumnya ketika konsolidasi partai berjalan terlambat akibat pandemi COVID-19 serta persoalan upaya pengambilalihan kepemimpinan Demokrat.

Situasi tersebut membuat partai harus mengejar waktu agar tahapan konsolidasi tidak berdekatan dengan pelaksanaan pemilu.

“Jadi tidak ada unsur-unsur lain kecuali ini adalah sebagai upaya Partai Demokrat untuk bisa melakukan konsolidasi nasional sejak awal supaya persiapan tahapan pemilu ke depan itu dipersiapkan dengan baik,” ujarnya.

Herman menekankan, percepatan Musda dan musyawarah cabang merupakan bagian dari upaya membangun kesiapan organisasi secara menyeluruh, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.

Pengurus Demisioner Tetap Jalankan Operasional

Selain menjelaskan agenda percepatan, Herman turut mempertegas mekanisme organisasi selama proses pergantian kepemimpinan berlangsung.

Ia menjelaskan, Musda pada tahap ini menentukan calon ketua DPD, sedangkan penentuan kepengurusan baru dilakukan melalui mekanisme partai selanjutnya.

Karena itu, kewenangan strategis selama masa transisi berada di tangan Dewan Pimpinan Pusat (DPP), melalui Kepala Badan Pembinaan Organisasi, Kaderisasi, dan Keanggotaan (BPOKK) atau pihak yang ditunjuk untuk menjalankan tugas kepartaian.

Meski demikian, Herman memastikan pengurus demisioner tetap dapat menjalankan kegiatan operasional partai agar aktivitas organisasi tidak terhenti.

“Untuk para pengurus yang demisioner, tentu bukan berarti harus menutup pintu karena partai ini harus tetap berjalan, ruang-ruang aspirasi harus tetap berjalan, kegiatan harus tetap juga berjalan,” jelasnya.

Ia menambahkan, berbagai keputusan strategis selama masa transisi perlu dikonsultasikan dengan BPOKK di Jakarta guna menjaga kesinambungan organisasi.

Apresiasi untuk Ni’matullah

Pada kesempatan tersebut, Herman juga menyampaikan apresiasi kepada Ketua DPD Demokrat Sulsel, Ni’matullah Erbe, atas kerja kerasnya dalam menjalankan roda organisasi dan menyukseskan pelaksanaan Musda.

Ia mengingatkan bahwa Demokrat pernah meraih kejayaan di Sulawesi Selatan. Pengalaman tersebut, menurutnya, harus menjadi modal untuk membangun kembali kekuatan partai melalui kerja bersama dan konsolidasi yang terarah.

Herman berharap Musda tidak berhenti pada proses pemilihan kepemimpinan, tetapi menghasilkan semangat baru bagi seluruh kader untuk memperkuat organisasi hingga tingkat bawah.

Dengan demikian, pergantian kepemimpinan di Demokrat Sulsel diharapkan menjadi awal penguatan barisan menghadapi kompetisi politik mendatang.

“Jadikanlah ini sebagai titik nol untuk kita memulai konsolidasi secara menyeluruh di Provinsi Sulawesi Selatan, membangun kembali kebersamaan, merapatkan barisan, bangun kekuatan,” pungkasnya.(*)

Pos terkait