OJK Genjot Literasi Pasar Modal, Perluas Basis Investor Ritel

Genjot Literasi Pasar Modal
FOTO: DOK.OJK//LITERASI. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi dalam kegiatan edukasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, beberapa waktu lalu. OJK mendorong peningkatan literasi pasar modal untuk memperluas basis investor domestik.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus mendorong peningkatan literasi pasar modal untuk memperluas basis investor domestik. Langkah ini juga bertujuan melindungi masyarakat dari investasi ilegal.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Hasan Fawzi, mengatakan literasi keuangan masih menjadi pekerjaan rumah besar. Hal ini disampaikan dalam kegiatan edukasi di Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, beberapa waktu lalu.

“Masih ada PR besar untuk meningkatkan tingkat literasi keuangan masyarakat dan publik, karena tanpa pemahaman yang memadai tentu rentan. Rentan terbujuk tawaran menggiurkan dari penyelenggara investasi dengan motif tidak baik atau investasi ilegal dan investasi bodong,” ujarnya.

Bacaan Lainnya

Hasan menjelaskan tingkat literasi pasar modal saat ini masih rendah. Berdasarkan survei, ujarnya, angkanya baru mencapai sekitar 17,78%. Menurutnya, edukasi menjadi kunci agar masyarakat memahami investasi yang benar. Selain itu, akses pasar modal kini semakin mudah melalui layanan digital.

“Pasar modal juga menyediakan berbagai peluang investasi menarik yang bisa diakses dengan mudah oleh siapa saja, termasuk adik-adik mahasiswa. Karena sekarang layanan pasar modal itu datang ke ruangan-ruangan kita semua melalui layanan di smartphone kita masing-masing,” kata Hasan.

Namun, ia mengingatkan masyarakat tetap harus berhati-hati dalam berinvestasi. Ia menyebut, risiko seperti volatilitas harga dan penipuan masih perlu diwaspadai.

OJK mencatat, hingga Maret 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 24,4 juta. Sebagian besar atau 54% merupakan generasi muda di bawah usia 30 tahun.

Di sisi lain, Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Fatah Sulaiman, menilai kampus memiliki peran strategis dalam edukasi pasar modal. Menurutnya, perguruan tinggi dapat menjadi sarana peningkatan pemahaman investasi bagi generasi muda.

“Pemahaman terhadap pasar modal menjadi sebuah kebutuhan bukan lagi sekedar pilihan. Banyak hal yang dapat dipelajari mahasiswa untuk memiliki kecakapan literasi keuangan, pemahaman strategi pengelolaan keuangan dan investasi yang sangat dibutuhkan di masa datang,” kata Fatah.

OJK bersama pemangku kepentingan juga terus menggelar edukasi melalui program Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu (SEPMT) 2026. Program ini menyasar berbagai kelompok, mulai dari ASN, komunitas perempuan, hingga mahasiswa.

Melalui upaya tersebut, OJK berharap literasi dan inklusi keuangan terus meningkat. Dengan demikian, masyarakat dapat berinvestasi secara aman dan berkontribusi pada perekonomian nasional.(*)

Pos terkait