Geopolitik Memanas, Harga Minyak Naik, OJK: Sektor Keuangan Indonesia Tetap Tangguh

1000411835
banner 468x60
  • Di tengah ancaman perlambatan ekonomi global dan kebijakan moneter yang lebih ketat, stabilitas sektor keuangan Indonesia tetap terjaga berkat kondisi domestik yang relatif stabil.
  • Kenaikan harga minyak akibat konflik geopolitik dan ancaman El Nino berpotensi menekan inflasi global, namun OJK melihat permintaan domestik masih menjadi penopang ekonomi Indonesia.
  • Tekanan ekonomi dunia meningkat akibat geopolitik, inflasi dan tingginya imbal hasil obligasi, sementara perekonomian Indonesia tetap ditopang konsumsi masyarakat yang kuat.

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai fundamental sektor jasa keuangan (SJK) Indonesia tetap kuat di tengah meningkatnya tekanan dan ketidakpastian ekonomi global.

Stabilitas sektor keuangan nasional dinilai tetap terjaga, seiring kondisi perekonomian domestik yang relatif stabil dan permintaan masyarakat yang masih kuat.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi mengatakan, kondisi global masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari ketidakpastian geopolitik, peningkatan inflasi, hingga pengetatan kebijakan moneter di sejumlah negara.

Bacaan Lainnya

“Situasi tersebut turut mendorong suku bunga global bertahan pada level tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer,” jelas Friderica dalam konferensi pers via YouTube resmi OJK, Senin (5/10/2026).

Pertumbuhan ekonomi global pada 2026, kata dia, juga diperkirakan lebih rendah dibandingkan 2025. Meski demikian, proyeksi tersebut masih lebih baik dari perkiraan sebelumnya, antara lain didukung peningkatan investasi dan perdagangan yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan (AI).

Tekanan terhadap perekonomian global terutama berasal dari kembali meningkatnya harga minyak akibat eskalasi konflik geopolitik. Selain itu, fenomena very strong El Nino berpotensi mendorong kenaikan harga pangan dan komoditas pertanian yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi global.

Kondisi tersebut mendorong sejumlah bank sentral menerapkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Suku bunga kebijakan di Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang mengalami kenaikan, sementara pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada akhir 2026 yang berpotensi berlanjut hingga 2027.

Kenaikan suku bunga global juga tercermin pada imbal hasil obligasi pemerintah yang mencapai level tinggi. Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan Eropa kembali berada pada level sebelum 2008, sedangkan Jepang mencapai level sebelum 1997.

Perkembangan tersebut turut dipengaruhi tingginya kebutuhan pembiayaan pemerintah serta meningkatnya penerbitan obligasi jangka panjang oleh perusahaan hyperscaler untuk membiayai investasi terkait AI.

Di tengah tekanan tersebut, kondisi perekonomian domestik dinilai masih relatif stabil. Inflasi Indonesia tetap terjaga sesuai target pemerintah sehingga mampu menopang permintaan domestik dan menjaga konsumsi masyarakat tetap kuat.

Menurut Friderica, kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung ketahanan perekonomian nasional di tengah tingginya ketidakpastian global.

Penguatan prospek ekonomi Indonesia juga tercermin dari keputusan OECD yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 sebesar 0,5%.

Perkembangan tersebut menunjukkan sektor keuangan masih memiliki peran penting dalam menopang aktivitas ekonomi nasional. OJK menilai sektor jasa keuangan terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara stabilitas sektor keuangan tetap terjaga dengan dukungan fundamental industri yang solid.

Dengan kondisi tersebut, OJK memandang ketahanan sektor jasa keuangan tetap menjadi salah satu penopang perekonomian Indonesia dalam menghadapi dinamika ekonomi dan pasar keuangan global yang masih penuh ketidakpastian. (*)

Pos terkait