BI Perluas Underlying Operasi Moneter, Obligasi Korporasi Masuk Instrumen

BI
Gubernur BI Destry Damayanti
banner 468x60
  • Kebijakan pro-market diarahkan memperkuat likuiditas dan pendalaman Pasar Uang serta Pasar Valuta Asing.
  • Transaksi repo dengan underlying surat berharga PT SMF telah mencapai Rp1,25 triliun.
  • BI mendorong pasar sekunder surat berharga korporasi semakin aktif dan likuid.
  • Volume transaksi surat berharga PT SMF melonjak lebih dari lima kali lipat hingga Agustus 2026.

RUANGAKSELERASI.ID, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying operasi moneter dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Kebijakan ini menjadi bagian dari strategi memperkuat operasi moneter yang lebih berorientasi pasar atau pro-market.

Perluasan tersebut diresmikan Gubernur BI Destry Damayanti bersama Menteri Keuangan RI Suahasil Nazara di Jakarta, 1 Oktober 2026. Langkah ini sekaligus mempererat keterkaitan antara kebijakan moneter dengan pengembangan Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA).

Destry mengatakan efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada kemampuan sinyal kebijakan mengalir melalui pasar keuangan. Karena itu, operasi moneter tidak hanya diarahkan untuk mengelola likuiditas, suku bunga, dan nilai tukar, tetapi juga mendorong aktivitas transaksi di pasar keuangan.

Bacaan Lainnya

“Efektivitas kebijakan moneter sangat bergantung pada transmisi melalui pasar keuangan yang dalam, likuid, dan efisien,” ujar Destry.

Perluasan underlying ini diharapkan membuat pasar surat berharga korporasi semakin aktif. Dengan semakin banyak instrumen yang dapat ditransaksikan, ruang bagi perbankan dan pelaku pasar untuk mengelola likuiditas juga menjadi lebih fleksibel.

Lebih jauh, kebijakan tersebut berpotensi memperkuat transaksi di pasar sekunder sekaligus membantu pembentukan harga yang lebih efisien. Efek lanjutannya diharapkan dapat mendukung pembiayaan sektor riil, termasuk sektor perumahan dan infrastruktur.

Implementasi perluasan underlying sebenarnya telah berjalan bertahap sejak 10 November 2025. Hingga 30 September 2026, total transaksi repo operasi moneter dengan underlying obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multigriya Finansial (Persero) atau PT SMF telah mencapai Rp1,25 triliun.

BI kemudian memperluas cakupan instrumen dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI. Lelang repo perdana dengan underlying tersebut dilaksanakan pada 28 September 2026 dengan nilai Rp60 miliar.

Dampaknya mulai terlihat pada aktivitas pasar sekunder. Volume transaksi surat berharga PT SMF meningkat dari rata-rata Rp31,9 miliar per hari pada Oktober 2025 menjadi Rp179,9 miliar per hari pada akhir Agustus 2026. Pada periode yang sama, kepemilikan bank atas obligasi PT SMF meningkat 18 persen, dari Rp8,69 triliun menjadi Rp10,22 triliun.

Dari sisi pemerintah, Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan komitmen untuk menjaga stabilitas perekonomian sekaligus memperkuat kredibilitas kebijakan Indonesia di mata investor. Pemerintah bersama LPS dan Danantara akan terus menjaga perekonomian serta membangun kepercayaan investor.

Ke depan, sinergi BI dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan lembaga terkait menjadi faktor penting dalam memastikan operasi moneter pro-market berjalan efektif. Perluasan underlying bukan sekadar menambah instrumen repo, tetapi juga membuka ruang bagi pendalaman pasar keuangan dan memperkuat jalur pembiayaan menuju sektor riil.(*)

Pos terkait