BANDUNG, RUANGAKSELERASI.ID — Nama Eric.pse mungkin lebih dahulu dikenal masyarakat melalui layar smartphone.
Konten tentang dunia penerbangan, kehidupan pilot dan awak kabin, keluarga, perjalanan serta berbagai pesan inspiratif membuat akun TikTok tersebut berkembang menjadi salah satu personal brand yang cukup dikenal di ranah digital.
Namun, ada sisi lain yang jauh lebih besar di balik nama Eric.pse.
Eric Purnomo, S.E. tidak hanya dikenal sebagai kreator konten. Ia juga tercatat dalam berbagai sumber publik sebagai founder, pimpinan, atau pihak yang terlibat dalam sejumlah perusahaan yang bergerak di bidang ticketing, travel, wisata dan teknologi reservasi.
Nama-nama perusahaan tersebut antara lain:
- PT Graha Lintas Persada
- PT Graha Tiket Indonesia
- PT Graha Travel Indonesia
- PT Graha Wisata Indonesia Maju
- PT Graha Trip Indonesia
- serta sejumlah entitas/brand lain yang berada dalam ekosistem yang disebut Graha Group.
Profil profesional Eric yang tersedia secara publik mencantumkan dirinya sebagai Founder PT Graha Lintas Persada, PT Graha Tiket Indonesia, PT Graha Travel Indonesia dan PT Graha Trip Indonesia, dengan brand VELOSITA serta aktivitas pada sistem reservasi dan online booking B2B maupun B2C.
Sementara itu, sumber yang mengulas PT Graha Lintas Persada menyebut Eric Purnomo, S.E. sebagai Direktur Utama/CEO dan juga mengaitkannya dengan sejumlah perusahaan lain dalam ekosistem tersebut.
Dengan demikian, kisah Eric.pse sebenarnya mempunyai dua panggung.
Panggung pertama berada di media sosial.
Panggung kedua berada di dunia bisnis.
Dan keduanya berkembang secara bersamaan.
Dari Nama di TikTok Menjadi Nama di Dunia Bisnis
Di era media sosial, jumlah pengikut sering menjadi ukuran seberapa jauh sebuah personal brand mampu menjangkau masyarakat.
Akun @eric.pse disebut memiliki sekitar 1,5 juta pengikut berdasarkan data publik yang terindeks pada 2026.
Namun, menariknya, Eric tidak berhenti pada aktivitas sebagai content creator.
Media Suaranesia pada Agustus 2026 menulis bahwa Eric PSE dikenal melalui konten penerbangan sekaligus sebagai pengusaha yang mengembangkan bisnis tiket, travel dan wisata. Media tersebut juga menyoroti keterlibatannya dalam kegiatan yang memperkenalkan peluang bisnis ticketing kepada UMKM dan calon pengusaha travel di sejumlah kota.
Di titik inilah perjalanan Eric menjadi berbeda.
Popularitas digital kemudian bertemu dengan pengalaman bisnis.
Konten bertemu komunitas.
Komunitas bertemu peluang.
Dan peluang tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah ekosistem bisnis perjalanan.
Graha Group: Ekosistem yang Berkembang dari Bisnis Perjalanan
Nama Graha Group muncul berulang kali dalam berbagai informasi publik yang berkaitan dengan perjalanan bisnis Eric.
Ekosistem tersebut mencakup berbagai brand seperti Graha Tiket, Graha Travel, Graha Trip, Graha Wisata dan Graha Lintas.
Namun yang menarik bukan sekadar jumlah nama perusahaan.
Masing-masing bergerak dalam bagian yang berhubungan dengan industri perjalanan dan teknologi.
Sumber legalitas yang ditampilkan Graha Travel secara resmi memuat dokumen untuk:
PT Graha Lintas Persada
PT Graha Tiket Indonesia
PT Graha Travel Indonesia
Dokumen yang ditampilkan mencakup akta, pengesahan Kementerian Hukum dan HAM serta NIB masing-masing badan usaha.
Sementara profil profesional Eric juga mencantumkan PT Graha Trip Indonesia sebagai salah satu perusahaan yang didirikannya, dengan pengembangan sistem reservasi otomatis B2B dan B2C.
Pemberitaan Suaranesia juga menyebut PT Graha Wisata Indonesia Maju dan mencatat Eric sebagai Komisaris Utama berdasarkan dokumen yang dirujuk media tersebut.
Karena posisi seseorang dapat berbeda pada setiap badan hukum dan dapat berubah seiring waktu, penyebutan jabatan perlu selalu dikaitkan dengan perusahaan serta dokumen yang menjadi sumbernya.
Tetapi satu hal terlihat jelas:
Eric Purnomo, S.E. mempunyai keterkaitan profesional yang luas dengan ekosistem bisnis Graha di sektor perjalanan.
Eric.pse dan Velosita: Ketika Bisnis Travel Masuk ke Era Digital
Di antara berbagai nama tersebut, ada satu brand yang menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis Eric:
Velosita dikembangkan sebagai sistem pendukung bisnis travel agent dan agen tiket berbasis digital.
Konsepnya bukan sekadar menyediakan tiket pesawat.
Sistem yang ditawarkan mencakup berbagai produk perjalanan dan layanan transaksi dalam satu ekosistem.
Situs Graha Travel menyebut Velosita menyediakan sistem B2B dan B2C, serta lebih dari 50 lini bisnis yang dapat dijalankan melalui satu sistem.
Produk yang ditampilkan mencakup tiket pesawat, kereta api, hotel, Pelni, shuttle travel, bus serta berbagai layanan pembayaran dan PPOB.
Bagi agen, konsep tersebut berarti satu pelanggan tidak harus berhenti pada satu transaksi.
Pelanggan yang membeli tiket pesawat dapat membutuhkan hotel.
Pelanggan hotel mungkin membutuhkan transportasi.
Wisatawan yang menggunakan kereta dapat membutuhkan tiket lanjutan.
Dan seluruh kebutuhan tersebut dapat menjadi bagian dari ekosistem perjalanan.
Lebih dari 50.000 Mitra Agen
Salah satu angka yang tercantum pada situs resmi Graha Travel adalah lebih dari 50.000 mitra agen di seluruh Indonesia.
Angka tersebut menjadi salah satu indikator skala jaringan yang diklaim telah dibangun oleh ekosistem Velosita.
Namun, yang lebih penting dari angka tersebut adalah perubahan model bisnis yang ditawarkan.
Bisnis agen travel tidak selalu harus dimulai dengan kantor besar.
Informasi Velosita menyebut sistem dapat digunakan melalui smartphone, komputer maupun perangkat lainnya. Sistem juga mendukung model B2B dan B2C.
Dengan pendekatan tersebut, teknologi menjadi salah satu alat yang dapat digunakan pelaku UMKM untuk memasuki industri perjalanan.
Dari Kantor Travel ke Smartphone
Dulu, seseorang yang ingin membeli tiket biasanya datang ke kantor agen.
Kini situasinya berubah.
Pelanggan dapat bertanya melalui WhatsApp.
Melihat promosi melalui Instagram.
Menemukan agen melalui TikTok.
Melakukan pemesanan melalui website.
Dan menyelesaikan transaksi melalui sistem digital.
Perubahan perilaku konsumen tersebut membuat agen travel juga harus berubah.
Mereka bukan lagi hanya penjual tiket.
Mereka harus menjadi:
sales, marketer, customer service, content creator, administrator sekaligus pengusaha.
Teknologi kemudian berfungsi sebagai infrastruktur untuk membantu berbagai pekerjaan tersebut.
Dalam materi resmi Velosita, terdapat fitur seperti sistem white label, B2B/B2C, website, Virtual Account atas nama travel dan laporan transaksi.
Mengapa Eric Membawa Bisnis Ini ke Masyarakat?
Jawabannya dapat dilihat dari tema yang dibawa Eric dalam berbagai kegiatan dan pemberitaan.
Suaranesia melaporkan bahwa Eric dalam berbagai pertemuan dan seminar mengajak masyarakat melihat tiket bukan hanya sebagai kebutuhan konsumsi, tetapi juga sebagai peluang usaha.
Gagasannya sederhana:
Jika masyarakat setiap hari membutuhkan tiket, mengapa kebutuhan tersebut tidak sekaligus menjadi peluang untuk membangun usaha?
Pertanyaan tersebut menjadi relevan bagi UMKM.
Sebab bisnis tidak selalu harus dimulai dengan produk yang rumit.
Kadang-kadang peluang justru berada pada sesuatu yang setiap hari dibutuhkan orang.
Pesan Eric.pse: Jangan Hanya Menjadi Penonton
Dari berbagai pemberitaan mengenai Eric, pesan kewirausahaan yang dibawanya kepada masyarakat dapat dirangkum pada satu gagasan besar:
jangan hanya menjadi konsumen; belajarlah menjadi bagian dari ekosistem bisnis.
Ketika seseorang membeli tiket, ia berada di sisi konsumen.
Tetapi ketika orang tersebut mempelajari cara menjual tiket, membangun pelanggan dan memberikan pelayanan, ia mulai melihat kebutuhan yang sama dari perspektif pengusaha.
Dalam konteks tersebut, Eric mendorong masyarakat untuk tidak takut memulai.
Bukan berarti semua orang harus menjadi agen travel.
Tetapi masyarakat didorong untuk melihat bahwa kebutuhan sehari-hari dapat melahirkan ide bisnis jika dipahami dengan benar.
“Mulai dari Apa yang Ada di Tangan”
Pesan inspiratif lain yang dapat ditarik dari perjalanan Eric adalah pentingnya memulai dari sumber daya yang sudah dimiliki.
Hari ini hampir setiap orang memiliki smartphone.
Hampir setiap orang memiliki akses ke media sosial.
Hampir setiap orang memiliki lingkaran pertemanan.
Dan hampir setiap orang memiliki kebutuhan atau pengalaman yang dapat dijadikan pengetahuan.
Maka memulai bisnis tidak selalu harus menunggu memiliki gedung.
Tidak selalu harus menunggu memiliki banyak modal.
Tidak selalu harus menunggu semuanya sempurna.
Mulai dari apa yang ada.
Kemudian belajar.
Perbaiki.
Bangun kepercayaan.
Dan tumbuh secara bertahap.
Inilah salah satu pesan yang relevan dari perjalanan Eric sebagai kreator sekaligus pengusaha.
Dari Konten ke Komunitas, dari Komunitas ke Peluang
Perjalanan Eric.pse juga memperlihatkan perubahan fungsi media sosial.
Pada tahap pertama, media sosial adalah tempat berbagi cerita.
Kemudian menjadi tempat membangun komunitas.
Setelah komunitas terbentuk, muncul kepercayaan.
Dan kepercayaan dapat membuka pintu menuju berbagai aktivitas profesional.
Konten penerbangan menjadi pintu masuk.
Tetapi bisnis travel menjadi salah satu ruang tempat pengalaman tersebut dikembangkan.
Media Faktasamarinda pada 2026 juga menyoroti dua sisi perjalanan Eric: popularitasnya melalui konten penerbangan dan pengembangan bisnis reservasi perjalanan digital.
Ini menunjukkan bahwa personal branding tidak harus berhenti sebagai popularitas.
Ia dapat berkembang menjadi aset komunikasi bagi sebuah bisnis.
Bisnis Travel dan Efek Domino Pariwisata
Ada alasan mengapa bisnis ticketing memiliki hubungan erat dengan pariwisata.
Satu orang membeli tiket pesawat.
Kemudian ia membutuhkan hotel.
Ia makan di restoran.
Menggunakan transportasi lokal.
Mengunjungi destinasi.
Membeli oleh-oleh.
Menggunakan jasa pemandu.
Satu perjalanan akhirnya menggerakkan banyak sektor.
Karena itulah pengembangan jaringan agen travel tidak hanya berbicara mengenai penjualan tiket.
Ia juga berkaitan dengan distribusi produk pariwisata.
Ketika semakin banyak masyarakat memiliki akses untuk menjual produk perjalanan, semakin banyak pula pintu yang dapat menghubungkan konsumen dengan industri pariwisata.
Eric PSE: Membangun Perusahaan, Bukan Sekadar Membangun Nama
Inilah bagian yang sering luput ketika masyarakat hanya mengenal Eric melalui TikTok.
Di layar, masyarakat melihat Eric.pse.
Di balik layar, terdapat Eric Purnomo, S.E. yang tercatat dalam berbagai sumber publik terkait sejumlah perusahaan.
PT Graha Lintas Persada — disebut dalam profil profesional sebagai salah satu perusahaan yang didirikan Eric dan menjadi bagian dari ekosistem VELOSITA.
PT Graha Tiket Indonesia — perusahaan yang tercantum dalam legalitas resmi Graha Travel dan juga dicantumkan dalam profil profesional Eric.
PT Graha Travel Indonesia — tercantum dalam dokumen legalitas resmi dan profil profesional Eric.
PT Graha Trip Indonesia — tercantum dalam profil profesional Eric sebagai perusahaan yang didirikan pada 2015 dan dikaitkan dengan sistem reservasi B2B/B2C.
PT Graha Wisata Indonesia Maju — disebut dalam pemberitaan Suaranesia sebagai salah satu entitas dalam ekosistem Graha dan mencantumkan Eric sebagai Komisaris Utama berdasarkan dokumen yang dirujuk media tersebut.
Sumber lain yang membahas PT Graha Lintas Persada juga menyebut beberapa entitas lain dalam ekosistem tersebut, sehingga struktur Graha terus berkembang dan tidak semata-mata bertumpu pada satu perusahaan.
Dari Langit ke Landasan Bisnis
Ada ironi yang menarik dari perjalanan Eric.
Ia dikenal dengan dunia penerbangan—dunia yang identik dengan terbang.
Tetapi untuk membangun bisnis, ia justru harus memiliki landasan.
Landasan itu berupa perusahaan.
- Teknologi.
- Tim.
- Jaringan.
- Agen.
- Pelanggan.
- Dan kepercayaan.
Karena itu, perjalanan Eric.pse dapat dibaca bukan sekadar sebagai kisah seorang TikToker yang kemudian menjadi pengusaha.
Lebih tepat jika kisah tersebut dilihat sebagai perjalanan membangun ekosistem dari pengalaman yang dimiliki.
Pesan untuk Anak Muda Indonesia
Di tengah persaingan dunia kerja dan bisnis yang semakin digital, kisah seperti ini memberikan satu pelajaran penting.
Tidak semua orang harus memiliki jalan yang sama.
Ada yang menjadi karyawan.
Ada yang menjadi profesional.
Ada yang menjadi kreator.
Ada yang menjadi pedagang.
Ada yang menjadi pengusaha.
Yang penting adalah memahami kemampuan sendiri dan berani mengembangkannya.
Dari perjalanan Eric.pse, pesan inspiratif yang dapat disampaikan kepada masyarakat Indonesia adalah:
Jangan takut memulai dari kecil.
Jangan menunggu sempurna untuk bergerak.
Jadikan teknologi sebagai alat, bukan sekadar hiburan.
Bangun kepercayaan sebelum mengejar keuntungan.
Dan ketika sudah berhasil, ciptakan kesempatan agar orang lain juga dapat berkembang.
Pesan tersebut sejalan dengan pemberitaan mengenai kegiatan Eric yang mengajak masyarakat melihat bisnis ticketing sebagai peluang kewirausahaan bagi UMKM dan calon agen travel.
Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai
Eric.pse mungkin pertama kali dikenal masyarakat melalui sebuah video.
Tetapi perjalanan bisnis tidak pernah selesai dalam satu video.
Ada proses.
Ada kegagalan.
Ada pembelajaran.
Ada keputusan.
Ada perusahaan.
Ada teknologi.
Ada pelanggan.
Ada mitra.
Dan ada perjalanan panjang yang harus terus dijalani.
Dari PT Graha Lintas Persada, PT Graha Tiket Indonesia, PT Graha Travel Indonesia, PT Graha Trip Indonesia, hingga PT Graha Wisata Indonesia Maju, nama Eric Purnomo, S.E. muncul dalam berbagai sumber publik yang berkaitan dengan ekosistem bisnis perjalanan Graha.
Di sisi lain, Velosita menjadi bagian penting dari cerita tersebut sebagai sistem digital untuk mendukung bisnis agen travel dan ticketing, dengan informasi resmi Graha Travel yang menyebut lebih dari 50.000 mitra agen di Indonesia.
Dan mungkin, di situlah makna terbesar dari perjalanan Eric.pse.
Bukan tentang seberapa banyak orang yang melihat kita.
Melainkan tentang apa yang dapat kita bangun setelah orang-orang mulai melihat kita.
Dari konten menjadi kepercayaan.
Dari kepercayaan menjadi komunitas.
Dari komunitas menjadi peluang.
Dan dari peluang menjadi sebuah ekosistem.
Karena pada akhirnya, terbang tinggi bukan hanya tentang mencapai langit.
Tetapi tentang bagaimana perjalanan menuju langit tersebut dapat membuka jalan bagi orang lain.

















