DALAM dunia sepak bola, kepergian seorang bintang besar selalu meninggalkan pertanyaan: apa yang terjadi setelah sang superstar pergi?
Ketika Lionel Messi meninggalkan FC Barcelona, kekhawatiran sempat membayangi para pendukung klub Catalan itu. Messi bukan sekadar pemain. Bertahun-tahun ia menjadi wajah, mesin gol, simbol kejayaan Barcelona, sekaligus representasi sebuah era.
Catatan redaksi: Lionel Messi berada di Barcelona sekitar 21 tahun, mulai dari kedatangannya di akademi La Masia pada tahun 2000. La Pulga–sapaan akrab Lionel Messi menjadi kapten utama di FC Barcelona selama tiga tahun, yakni Agustus 2018 hingga Agustus 2021.
Ketika akhirnya meninggalkan Camp Nou, Barcelona tidak sekadar kehilangan seorang pemain. Klub dengan gaya permainan tiki-taka tersebut kehilangan figur yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari identitasnya.
Analogi semacam itu menarik ketika dibawa ke panggung politik Sulawesi Selatan.
Di Partai Demokrat Sulsel, nama Ni’matullah Erbe juga sulit dipisahkan dari perjalanan partai berlambang mirip Mercy ini. Ia telah memimpin Demokrat Sulsel selama tiga periode kepengurusan.
Bahkan menjelang Musda yang direncanakan pada Oktober 2026, Ni’matullah masih disebut memiliki peluang untuk kembali maju. Maka, jika ingin membuat sebuah metafora politik, boleh saja muncul kalimat: Ni’matullah Erbe adalah Partai Demokrat Sulsel. Partai Demokrat Sulsel adalah Ni’matullah Erbe.
Tentu, kalimat itu bukan berarti partai adalah milik satu orang. Sebuah partai tetaplah organisasi yang dibangun oleh kader, struktur, dan kerja kolektif.
Tetapi kalimat tersebut menggambarkan betapa kuatnya asosiasi publik terhadap sosok Ni’matullah setelah bertahun-tahun berada di pucuk kepemimpinan Demokrat Sulsel.
Kini, suasana mulai berubah.
Nama Munafri Arifuddin alias Appi muncul dalam bursa calon Ketua Demokrat Sulsel menjelang Musda. Meski, sampai saat ini Appi belum menyatakan secara resmi bahwa dirinya akan meninggalkan Golkar ataupun maju dalam Musda Demokrat.
Di sinilah analogi Messi menjadi semakin menarik. Ketika Messi pergi dari Barcelona, pertanyaannya bukan sekadar siapa yang memakai nomor punggung “10”. Pertanyaan terbesarnya adalah: mampukah Barcelona membangun identitas baru setelah era Messi?.
Begitu pula di Partai Demokrat Sulsel. Jika suatu hari kepemimpinan berpindah dari Ni’matullah kepada figur lain, tantangannya bukan sekadar mengganti nama di papan struktur organisasi.
Tantangannya adalah bagaimana menjaga kesinambungan partai sekaligus membuka ruang bagi energi baru.
Appi, jika benar masuk dan mengikuti kontestasi Musda, akan membawa latar belakang politik yang berbeda. Ia bukan kader lama Demokrat yang tumbuh dari dalam struktur partai.
Ia datang sebagai figur yang saat ini menjabat Wali Kota Makassar dan masih dikaitkan dengan Partai Golkar.
Namanya memang telah mencuat dalam pembicaraan internal Partai Demokrat Sulsel. Tetapi apakah ia benar-benar maju tetap menjadi bagian dari proses politik yang belum selesai?.
Karena itu, pertarungan sesungguhnya—jika benar terjadi—bukan sekadar Ni’matullah versus Appi.
Lebih jauh dari itu, ini adalah perjumpaan antara pengalaman dan kemungkinan regenerasi. Ni’matullah membawa jejak panjang kepemimpinan di Demokrat Sulsel. Appi, jika masuk, membawa kemungkinan wajah baru dengan pengalaman sebagai kepala daerah.
Dalam sepak bola, pergantian era tidak selalu berarti membuang masa lalu. Justru pemain baru harus belajar dari sejarah klub sebelum menciptakan sejarahnya sendiri. Barcelona tidak menjadi Barcelona hanya karena Messi.
Tetapi Messi telah meninggalkan jejak yang membuat sebuah era sulit dilupakan.
Begitu pula Demokrat Sulsel. Jika kelak terjadi pergantian kepemimpinan, era Ni’matullah tentu tidak serta-merta hilang. Jejak tiga periode kepemimpinannya tetap menjadi bagian dari sejarah partai.
Pertanyaannya kemudian bukan “siapa yang lebih besar?”. Pertanyaannya adalah: Setelah era Ni’matullah, seperti apa wajah Demokrat Sulsel berikutnya?.
Apakah partai akan mempertahankan pola lama dengan wajah yang sama, atau membuka lembaran baru dengan figur berbeda?.
Dan jika Appi benar-benar masuk ke ruang itu, apakah ia akan menjadi sekadar pemain baru yang mengenakan jersey Demokrat?. Atau justru menjadi figur yang menandai dimulainya “era baru” Partai Demokrat Sulsel?.
Sepak bola dan politik memang memiliki hukum yang menarik. Tidak ada satu pemain yang selamanya menjadi pusat permainan.
Mantan manajer legendaris Manchester United, Sir Alex Ferguson bahkan pernah bilang: Tidak ada pemain yang lebih besar dari klub (no one is bigger than the club).
Pada akhirnya, yang diuji bukan hanya siapa yang memakai jersey, tetapi seberapa besar kontribusinya untuk membawa klub—atau dalam konteks ini, partai—memasuki babak berikutnya.(*)
Sudut:
- Lionel Messi hengkang ke klub raksasa Prancis, Paris Saint-Germain (PSG) setelah Presiden Barcelona Joan Laporta tidak memperpanjang kontraknya dengan alasan krisis keuangan klub serta terbentur aturan pembatasan batas gaji (salary cap) dari LaLiga.
- Pertanyaannya lagi: Apakah PSI, eeeh…PSG tertarik mendekati Ni’matullah Erbe?. Dalam dunia politik dan sepak bola, selama jendela transfer belum ditutup, pemain bola bebas melakukan kepindahan, negosiasi kontrak, atau pendaftaran skuad baru… hahahahahhaa
Senin, 28 September 2026
MAHATIR MAHBUB














