Hidup di Tengah Budaya Cicilan

FARHAN
Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak
banner 468x60

Oleh : Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak
———————————————————————
Dosen Akuntansi S1 Universitas Negeri Makassar

KEMUDAHAN bertransaksi telah mengubah cara masyarakat memenuhi kebutuhan. Barang yang dahulu harus dibeli setelah uang terkumpul, kini dapat dimiliki lebih cepat melalui kartu kredit, cicilan, maupun fasilitas bayar kemudian. Di satu sisi, kemudahan tersebut membantu masyarakat mengatur arus kas.

Namun di sisi lain, kemudahan yang sama dapat menjadi pintu masuk bagi masalah keuangan apabila tidak disertai disiplin. Persoalan sebenarnya bukan terletak pada cicilan. Cicilan dapat menjadi instrumen keuangan yang bermanfaat jika digunakan untuk kebutuhan yang terencana dan sesuai kemampuan.

Bacaan Lainnya

Masalah muncul ketika keputusan membeli lebih banyak didorong oleh keinginan daripada kebutuhan, sementara kemampuan membayar baru dipikirkan setelah transaksi dilakukan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat seseorang merasa mampu membeli suatu barang hanya karena nilai cicilannya terlihat kecil setiap bulan. Padahal yang seharusnya diperhatikan bukan hanya besarnya angsuran, tetapi juga jumlah seluruh kewajiban yang harus dibayar dalam periode yang sama.

Cicilan kendaraan, rumah, telepon genggam, belanja daring, hingga kebutuhan lainnya dapat terlihat ringan jika dihitung satu per satu, tetapi menjadi berat ketika harus dibayar secara bersamaan. Dalam akuntansi, kita mengenal pentingnya melihat kondisi keuangan secara menyeluruh.

Pendapatan tidak dapat dinilai tanpa melihat beban dan kewajiban. Prinsip sederhana tersebut juga dapat diterapkan dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga. Besarnya penghasilan bukan satu-satunya ukuran kesehatan keuangan. Yang lebih penting adalah bagaimana pendapatan tersebut dikelola, berapa besar kewajiban yang harus dibayar, dan apakah masih terdapat ruang untuk menabung serta menghadapi kebutuhan tidak terduga.

Budaya konsumsi juga semakin dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Tidak sedikit orang membeli sesuatu bukan karena membutuhkan, tetapi karena takut dianggap tertinggal. Barang baru, kendaraan baru, tempat makan baru, atau gaya hidup tertentu terkadang menjadi ukuran keberhasilan yang kita ciptakan sendiri. Akibatnya, kemampuan finansial sering dipaksa mengikuti tuntutan gaya hidup.

Padahal kondisi keuangan yang sehat tidak selalu terlihat dari luar. Seseorang dapat memiliki banyak barang, tetapi juga memiliki banyak kewajiban. Sebaliknya, seseorang yang hidup sederhana belum tentu memiliki kemampuan ekonomi yang rendah. Bisa jadi ia sedang membangun tabungan, menyiapkan dana pendidikan, investasi, atau dana darurat untuk keluarganya.

Karena itu, literasi keuangan seharusnya tidak hanya mengajarkan bagaimana mencari penghasilan, tetapi juga bagaimana membuat keputusan atas penghasilan tersebut. Kemampuan mengatakan “belum perlu” terhadap suatu pembelian sama pentingnya dengan kemampuan menghasilkan uang. Keluarga juga memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

Anak-anak dapat mulai diperkenalkan pada perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, pentingnya menabung, serta konsekuensi dari setiap keputusan keuangan. Pendidikan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi akan sangat menentukan bagaimana seseorang mengelola keuangan ketika dewasa.

Kemudahan bertransaksi bukan sesuatu yang harus ditakuti. Teknologi pembayaran dan fasilitas kredit dapat membantu kehidupan jika digunakan secara bijaksana. Namun kita tetap perlu mengingat bahwa kemudahan membeli tidak selalu berarti kemampuan memiliki.

Kesehatan keuangan tidak ditentukan oleh seberapa banyak yang mampu kita beli, tetapi oleh seberapa baik kita mengendalikan keputusan keuangan. Di tengah budaya konsumsi yang semakin kuat, kemampuan menahan diri justru dapat menjadi salah satu bentuk kecerdasan finansial yang paling penting.(*)

Pos terkait