Oleh : Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak
————————————————————–
Dosen Akuntansi S1 Universitas Negeri Makassar
SETIAP KALI membuka berita atau mendengarkan pidato pejabat publik, kita hampir selalu disuguhi angka-angka yang menenangkan hati. Grafiknya naik, persentasenya meyakinkan, dan narasinya optimistis: ekonomi kita tumbuh stabil, investasi terus berdatangan, dan Indonesia sedang melangkah mantap menuju masa depan yang gemilang.
Namun, begitu layar televisi dimatikan dan kita melangkah ke pasar tradisional, minimarket, atau sekadar memeriksa saldo di aplikasi m-banking, cerita indah itu seolah mendadak menguap. Ada jarak yang begitu lebar antara angka-angka megah di atas kertas dengan jeritan sunyi di dalam kantong masyarakat.
Realitas hari ini menyadarkan kita pada satu hal yang pahit: mimpi tentang pertumbuhan ekonomi yang melesat tinggi kerap kali tidak berbanding lurus dengan ketebalan dompet rakyatnya. Kelas menengah dan kelompok pekerja, yang selama ini menjadi tulang punggung penggerak roda ekonomi, justru menjadi pihak yang paling ngos-ngosan.
Harga kebutuhan pokok merambat naik tanpa permisi, tarif listrik dan BBM terus menyesuaikan diri, sementara kenaikan gaji tahunan sering kali tak mampu mengejar laju inflasi harian.
Di sinilah letak paradoks yang paling menyentuh sisi kemanusiaan kita. Masyarakat bukannya malas bekerja. Justru sebaliknya, banyak orang yang kini bekerja lebih keras dari biasanya. Ada ayah yang merangkap menjadi pengemudi ojek online setelah jam kantor usai, ada ibu yang berjualan kue secara daring di sela-sela mengurus rumah tangga, dan ada anak-anak muda yang mengambil dua hingga tiga pekerjaan freelance sekaligus demi bisa bertahan.
Namun, jangankan untuk menabung atau merencanakan masa depan, penghasilan tambahan itu sering kali hanya melintas sekejap, sekadar lewat untuk menutup tagihan rutin dan biaya hidup yang kian mencekik.
Kondisi ini perlahan-lahan mengikis ketahanan emosional keluarga. Ketika dompet terus menipis, rasa cemas menjadi kawan setia yang hadir saban hari. Orang tua mulai pusing memikirkan biaya pendidikan anak yang kian tak terjangkau, sementara anak-anak muda mulai realistis—kalau tidak mau disebut putus asa—melihat harga rumah yang mustahil terbeli oleh kantong mereka. Ekonomi yang katanya tumbuh ternyata belum sepenuhnya mampu menghadirkan rasa tenang dan aman di meja makan keluarga-keluarga Indonesia.
Kita tentu tidak sedang menolak optimisme. Negara memang butuh angka pertumbuhan yang tinggi agar bisa diperhitungkan di kancah dunia. Namun, ekonomi sejati seharusnya bukan cuma tentang statistik yang memukau para pakar dan investor.
Ekonomi yang humanis adalah ekonomi yang dampaknya berbisik lembut di dapur rumah-rumah warga, yang membuat seorang ibu tidak perlu menghela napas panjang saat membayar belanjaan, dan membuat seorang kepala keluarga bisa tidur nyenyak tanpa terbayang-bayang utang esok hari.
Sudah saatnya kebijakan ekonomi kita kembali membumi dan berpihak pada daya beli nyata masyarakat. Pembangunan tidak boleh hanya megah di puncak, tetapi hampa di akar rumput.
Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekonomi sebuah bangsa bukanlah seberapa tinggi grafik yang dipamerkan di atas mimbar, melainkan seberapa sejahtera dan tenangnya rakyat saat membuka dompet mereka sendiri.(*)







