Membongkar Budaya “Sapu di Bawah Karpet” Setiap Kali Musim Audit Tiba

farhan 2 1
Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak

Oleh : Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak
————————————————————–
Dosen Akuntansi S1 Universitas Negeri Makassar

SETIAP kali audit akan dilakukan, suasana di banyak kantor biasanya langsung berubah. Dokumen yang selama ini tidak tertata mulai dicari, laporan diperiksa kembali, dan berbagai kekurangan administrasi segera dibereskan.

Semua orang terlihat sibuk memastikan agar tidak ada masalah yang ditemukan auditor. Kondisi ini sebenarnya menunjukkan bahwa audit masih sering dianggap sebagai sesuatu yang menakutkan, bukan sebagai proses untuk memperbaiki pengelolaan organisasi.

Bacaan Lainnya

Masalahnya, tidak sedikit pihak yang lebih memilih menutupi kesalahan daripada menyelesaikannya. Dokumen yang kurang lengkap dibuat seolah-olah lengkap, temuan lama dibiarkan, sedangkan transaksi yang bermasalah berusaha disembunyikan. Inilah yang sering disebut sebagai budaya “sapu di bawah karpet”.

Masalah memang tidak terlihat dari luar, tetapi tetap ada dan sewaktu-waktu dapat muncul kembali dalam bentuk yang lebih besar. Dalam perspektif akuntansi, kebiasaan seperti ini tentu tidak dapat dibenarkan.

Laporan keuangan seharusnya menunjukkan keadaan yang sebenarnya, bukan keadaan yang sengaja dibuat terlihat baik. Ketika informasi ditutup-tutupi, laporan keuangan menjadi tidak lagi dapat dipercaya. Akibatnya bukan hanya muncul temuan audit, tetapi juga dapat menimbulkan kerugian, menurunkan kepercayaan, bahkan membawa organisasi pada persoalan hukum.

Budaya menutupi masalah biasanya muncul karena pegawai takut disalahkan atau mendapat sanksi. Ada juga pimpinan yang hanya ingin menerima laporan yang baik dan tidak siap mendengar adanya kekurangan. Akhirnya, bawahan memilih diam dan berusaha menyelesaikan masalah hanya pada permukaannya.

Padahal, jika kesalahan disampaikan sejak awal, organisasi masih memiliki kesempatan untuk memperbaikinya sebelum masalah tersebut semakin rumit.

Audit seharusnya tidak dipandang sebagai musim untuk merapikan dokumen atau menyembunyikan kesalahan. Audit harus menjadi kesempatan untuk melihat apakah sistem yang digunakan sudah berjalan dengan baik.

Organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak pernah memiliki kesalahan, melainkan organisasi yang berani mengakui kesalahan dan segera memperbaikinya. Karena itu, budaya “sapu di bawah karpet” harus dihentikan dan diganti dengan budaya kerja yang jujur, tertib, dan bertanggung jawab.(*)

Pos terkait