By: Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.
———————————————————————–
Dosen Pendidikan Akuntansi, Universitas Negeri Makassar
MENJADI seorang ibu di zaman sekarang itu rasanya seperti sedang jalan di atas sebuah tali. Di satu sisi, kita ingin memanfaatkan teknologi semaksimal mungkin untuk membantu tumbuh kembang anak. Namun di sisi lain, ada rasa cemas yang terus mengintai setiap kali melihat anak-anak kita begitu asyik menatap layar gadget mereka.
Jika boleh Jujur, era digital ini menyajikan gemerlap yang sangat luar biasa. Anak-anak zaman sekarang bisa belajar bahasa asing hanya dari menonton video pendek, atau mengenal hewan-hewan purba lewat animasi 3D yang interaktif.
Pengetahuan rasanya ada di ujung jari mereka. Tapi, di balik segala kemudahan dan kecanggihan itu, ada tantangan besar yang diam-diam menyelinap ke dalam rumah kita.
Tantangan terbesarnya sering kali bukan soal bagaimana cara membatasi screen time atau memilihkan aplikasi yang aman untuk mereka. Hal yang paling sulit justru adalah merebut kembali perhatian anak dari dunia maya. Gemerlap layar sering kali menawarkan hiburan yang begitu cepat, warna-warni, dan serba instan.
Sementara itu, proses belajar di dunia nyata butuh kesabaran, fokus, dan interaksi yang pelan. Di sinilah peran seorang ibu diuji. Bagaimana caranya kita tetap bisa menjadi tempat mengadu dan bermain yang lebih menarik daripada sekadar game atau algoritma media sosial Selain itu, para ibu zaman sekarang juga dihadapkan pada gemerlap sebuah tekanan sosial.
Di media sosial, kita setiap hari disuguhi konten tentang pengasuhan ideal mulai dari ibu yang selalu sabar, anak yang sudah bisa membaca di usia toddler, hingga makanan sehat yang tertata rapi. Tanpa sadar, hal itu sering membuat kita merasa tidak cukup baik.
Padahal, kenyataan di lapangan tidak semulus linimasa Instagram. Mendidik anak butuh energi ekstra, dan kelelahan itu sangat nyata.
Namun, di tengah semua kerumitan ini, ada satu hal yang tidak pernah bisa digantikan oleh teknologi tercanggih mana pun yaitu sentuhan dan kehadiran fisik seorang ibu. Anak-anak mungkin bisa belajar matematika dari aplikasi terhebat, tapi mereka tidak bisa belajar rasa empati, ketenangan saat cemas, atau nilai kejujuran dari sebuah layar.
Kehangatan pelukan saat mereka gagal, tatapan mata yang penuh pengertian, dan obrolan santai di meja makan sebelum tidur adalah kurikulum kehidupan yang hanya bisa diberikan oleh interaksi manusia.
Mendidik anak di era digital bukan berarti kita harus memusuhi teknologi atau menutup mata dari adanya perubahan. Kuncinya ada pada keseimbangan.
Kita tidak perlu menjadi ibu yang sempurna yang tahu segalanya tentang gadget, tapi cukuplah menjadi ibu yang selalu ada yang siap menggenggam tangan anak mereka saat dunia digital mulai membuat mereka bingung atau kewalahan. Secanggih apa pun zamannya, tempat pulang paling aman buat anak ya tetap dekapan hangat seorang ibu.(*)








