RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR –– Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 tetap terjaga dengan nilai mencapai 439,8 miliar dolar Amerika Serikat (AS). Secara tahunan, ULN Indonesia tumbuh 1,9% yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 yang sebesar 1,0%.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan peningkatan tersebut terutama didorong oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah berlanjutnya kontraksi ULN sektor swasta.
“Posisi ULN Indonesia pada April 2026 tercatat sebesar 439,8 miliar dolar AS atau secara tahunan tumbuh 1,9%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pada bulan sebelumnya. Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah kontraksi ULN sektor swasta yang masih berlanjut,” kata Ramdan dalam keterangan resminya.
Ramdan menjelaskan, posisi ULN pemerintah pada April 2026 tercatat sebesar 216,4 miliar dolar AS atau tumbuh 3,7% secara tahunan. Meski masih tumbuh, laju pertumbuhan ini sedikit melambat dibandingkan Maret 2026 yang mencapai 3,8%.
Menurutnya, perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan pinjaman luar negeri yang melambat. Namun demikian, aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatatkan arus masuk bersih (net inflow), yang mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga.
Ia menegaskan, pemerintah terus mengarahkan pemanfaatan ULN untuk mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan utang. Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah banyak digunakan untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan porsi 22% dari total ULN pemerintah.
Selanjutnya, sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5%, jasa pendidikan 16,2%, konstruksi 11,5%, serta transportasi dan pergudangan 8,5%. “Posisi ULN pemerintah didominasi oleh utang jangka panjang yang mencapai 99,99% dari total ULN pemerintah,” kata Ramdan.
Sementara itu, ULN swasta pada April 2026 tercatat sebesar 193,2 miliar dolar AS. Secara tahunan, ULN swasta masih mengalami kontraksi sebesar 0,7%, meskipun lebih baik dibandingkan kontraksi pada Maret 2026 yang mencapai 1,4%.
Ramdan menyebutkan, kontraksi tersebut terutama berasal dari kelompok peminjam lembaga keuangan atau financial corporations yang mengalami penurunan sebesar 5,0% secara tahunan. Namun, angka itu menunjukkan perbaikan dibandingkan kontraksi 6,3% pada bulan sebelumnya.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian. Keempat sektor tersebut menyumbang sekitar 79,6% dari total ULN swasta. “ULN swasta tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 75,8% dari total ULN swasta,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ramdan menegaskan bahwa struktur ULN Indonesia secara keseluruhan masih berada pada level yang sehat. Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang stabil di level 29,6% pada April 2026. Selain itu, komposisi ULN nasional juga didominasi utang jangka panjang yang mencapai 84,5% dari total ULN.
Untuk menjaga ketahanan sektor eksternal dan stabilitas ekonomi nasional, Bank Indonesia bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan utang luar negeri. (*)











