Target Tembus Pimpinan DPRD, PKB Makassar Harus Perluas Basis Pemilih

PKB Harus Perluas Basis Pemilih
FOTO: IST//MUSCAB. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Selatan menggelar Musyawarah Cabang (Muscab) Zona II di Hotel The Rindra Makassar, Minggu (19/4/2026).

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Makassar didorong melakukan transformasi besar untuk memperluas basis pemilih melampaui kelompok tradisional (NU) menuju pemilih non-tradisional, non-muslim, dan generasi milenial guna mengamankan posisi papan atas pada Pemilu 2029 nanti.

Sebelumnya, Ketua Dewan Pengurus Cabang (DPC) PKB Kota Makassar, Fauzi Andi Wawo, memasang target ambisius untuk membawa partainya merebut kursi pimpinan DPRD Makassar pada Pemilu 2029. Target tersebut sekaligus menjadi upaya menjaga kesinambungan program partai yang telah dibangun sejak 2019.

Fauzi menilai, tren elektoral PKB di Makassar menunjukkan perkembangan yang cukup positif dalam beberapa periode terakhir. Dengan modal lima kursi yang dimiliki saat ini, ia optimistis partainya mampu naik kelas dan bersaing di papan atas politik lokal.

Bacaan Lainnya

Menanggapi hal tersebut, Direktur Profetik Institute, Asratillah, menilai optimisme itu memiliki dasar, meski belum cukup kuat untuk disebut pasti.

“Saya melihat optimisme PKB Makassar untuk merebut kursi pimpinan DPRD itu punya dasar, tetapi belum cukup kuat untuk disebut pasti. Dengan modal lima kursi saat ini, PKB memang menunjukkan tren kenaikan yang cukup konsisten,” ujarnya, Senin (20/4/2026).

Menurut Asratillah, dalam konteks politik lokal seperti Makassar, tren kenaikan justru lebih penting dibanding posisi saat ini. Hal itu dinilai mencerminkan arah kepercayaan publik terhadap partai.

Namun demikian, ia menegaskan bahwa untuk bisa menembus kursi pimpinan DPRD, PKB tidak cukup hanya menambah jumlah kursi. Partai juga harus meningkatkan kualitas suara serta memperluas sebaran basis pemilih.

“Kuncinya ada pada kemampuan menjaga dan memperluas basis sosial. PKB selama ini dikenal kuat di jaringan kultural dan komunitas tertentu, tetapi untuk naik kelas, harus mampu menembus pemilih perkotaan yang lebih cair dan rasional,” jelasnya.

Ia menambahkan, karakter pemilih di Makassar sebagai kota besar berbeda dengan wilayah lain di Sulawesi Selatan. Karena itu, pendekatan politik yang digunakan juga perlu beradaptasi.

“Kalau hanya bertumpu pada pola lama, kenaikannya bisa stagnan. Tapi jika mampu menjawab isu-isu perkotaan seperti lapangan kerja, pelayanan publik, dan anak muda, peluang itu terbuka,” lanjutnya.

Selain faktor basis pemilih, Asratillah juga menyoroti pentingnya peran kepemimpinan dalam mendorong elektabilitas partai. Menurutnya, figur ketua DPC memiliki posisi strategis dalam menjaga soliditas internal sekaligus memperluas komunikasi politik.

“Jika kepemimpinan mampu menjaga keseimbangan antara loyalitas kader dan keterbukaan terhadap figur baru, maka efek elektoralnya bisa signifikan. Banyak partai gagal naik kelas bukan karena kekurangan suara, tetapi karena konflik internal yang tidak terkelola,” tegasnya.

Ia menekankan, konsolidasi internal harus berjalan beriringan dengan proses regenerasi agar partai tetap dinamis dan adaptif terhadap perubahan. Pada akhirnya, Asratillah menilai target kursi pimpinan DPRD yang dicanangkan PKB Makassar tergolong realistis, namun bersyarat. Dibutuhkan kerja politik yang sistematis dan berkelanjutan untuk mencapainya.

“Jika tren pertumbuhan bisa dijaga dan strategi diperluas, PKB Makassar punya peluang masuk tiga besar. Tapi tanpa inovasi, mereka bisa terus tumbuh tanpa benar-benar menembus batas psikologis sebagai kekuatan utama,” pungkasnya. (*)

Pos terkait