Perempuan dan Kesalehan Sosial di Tanah Suci

hajjah
Dr.Nila Sastrawati.,M.Si.

OLEH: DR.NILA SASTRAWATI.,M.SI.
———————————————
MAKKAH

TANAH SUCI selalu menghadirkan kesan spiritual yang mendalam bagi setiap Muslim. Di tempat inilah jutaan manusia berkumpul dengan pakaian yang sama, tujuan yang sama, dan doa-doa yang melangit tanpa sekat status sosial.

Namun di balik kekhusyukan ibadah itu, terdapat satu nilai penting yang kerap kali terlupakan, yakni: Kesalehan Sosial. Seringkali kita menganggap puncak haji adalah saat kening menyentuh lantai Masjidil Haram.

Bacaan Lainnya

Namun, bagi banyak perempuan, puncak haji justru hadir saat tangan mereka terulur membantu sesama di tengah lautan manusia yang memadati tanah suci.

Kesalehan tidak hanya tampak dalam panjangnya doa, banyaknya ibadah sunnah, atau lamanya seseorang berzikir, tetapi juga terlihat dari bagaimana seseorang memperlakukan orang lain.

Dalam konteks ini, perempuan memiliki peran yang sangat besar dalam menumbuhkan dan menghadirkan kesalehan sosial itu.

Di puncak ibadah haji, perempuan tidak hanya hadir sebagai individu yang menunaikan rukun Islam, tetapi juga sebagai simbol keteguhan, pengorbanan, dan kesalehan sosial.

Di balik jilbab dan mukena mereka, perempuan sering menjadi penguat bagi sesama jamaah: membantu yang kelelahan, menenangkan yang panik, membimbing yang tersesat, bahkan berbagi air dan makanan di tengah teriknya cuaca.

Haji sejatinya bukan sekadar perjalanan spiritual pribadi. Haji adalah sekolah kemanusiaan. Dan perempuan, dengan naluri empati serta kepeduliannya, menghadirkan wajah ibadah yang penuh kasih sayang.

Dari tanah suci, mereka membawa pulang bukan hanya gelar hajjah, tetapi juga nilai-nilai luhur tentang solidaritas, kepedulian, dan pengabdian kepada sesama.

Pada akhirnya, puncak haji bukan hanya tentang mencapai Ka’bah atau menyempurnakan rangkaian ibadah.

Puncak haji adalah ketika hati menjadi lebih bersih, dan ketika kesalehan pribadi tumbuh menjadi kesalehan sosial. Perempuan telah menunjukkan bahwa ibadah terbaik tidak berhenti pada doa dan ritual, tetapi juga hidup dalam tindakan nyata yang menghadirkan manfaat bagi orang lain.

Karena itulah, di balik keramaian tanah Duci, perempuan menjadi cahaya yang meneguhkan makna haji: perjalanan menuju Allah yang sekaligus menguatkan cinta kepada sesama manusia.

Berikut beberapa potret keteladanan jemaah perempuan yang bisa dijadikan inspirasi:

1. Menjadi “Kaki” Bagi yang Lelah
Pernahkah Anda melihat jemaah perempuan muda yang dengan sigap menggandeng atau mendorong kursi roda jemaah lansia yang bukan keluarganya? Di jalur Sa’i yang panjang, mereka meneladani perjuangan Siti Hajar buka hanya untuk diri sendiri, tapi untuk memastikan saudara seiman tak tertinggal.

2. Diplomasi Senyum dan Air Minun
Di bawah terik matahari Makkah, jemaah perempuan seringkali menjadi “penyejuk”. Berbagi sebotol air, menyemprotkan face mist ke jemaah lain yang kepanasan, atau sekadar memberikan ruang duduk di saf yang sesak. Itu bukan sekadar sopan santun. Itu adalah ibadah sosial.

3. Sabar yang Menular
Menghadapi antrean panjang atau desak-desakan sering memicu emosi. Namun, banyak perempuan yang memilih menjadi peredam susasana dengan dzikir dan kata-kata penenang. Mereka membuktikan bahwa menjaga lisan (thiyabul-kalam) adalah bagian dari kemabruran.

4. Kepekaan Tanpa Sekat Bahasa
Kesalehan sosial perempuan di Tanah Suci melampaui batas negara. Meski tak paham bahasa, mereka berkomunikasi lewat gestur: membagi kurma, membantu membenarkan posisi ihram jemaah lain, atau memberikan obat-obatan sederhana.

Pelajaran untuk Kita:
Kesalehan sosial di Tanah Suci mengajarkan kita bahwa kedekatan dengan Allah (kesalehan ritual) harus berjalan beriringan dengan kebaikan kepada manusia.

Jika di Makkah kita bisa begitu peduli pada orang asing, seharusnya setelah pulang, kita jauh lebih peduli pada tetangga dan kerabat. (*)

Pos terkait