RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Perkembangan aliran uang kartal di Sulawesi Selatan (Sulsel) masih menunjukkan tren aliran keluar bersih (net outflow) pada tiga bulan terakhir 2025 lalu.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari peran strategis Kota Makassar, sebagai pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan di kawasan Indonesia Timur.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, memaparkan, karakteristik aliran uang kartal di Sulsel cenderung mengalami net outflow.
“Hal karena tingginya aktivitas perdagangan antardaerah yang terpusat di Makassar,” papar Rizki dalam laporan perekonomian Sulsel, kemarin.
Menurutnya, Kota Makassar sejauh ini berfungsi sebagai hub atau penghubung antara Indonesia Barat dan Indonesia Timur, sehingga arus distribusi barang dan jasa berlangsung sangat intens.
“Makassar sebagai ibu kota provinsi memiliki peran penting sebagai hub perdagangan, baik antarprovinsi maupun intraprovinsi. Hal ini menyebabkan kebutuhan uang tunai masih relatif tinggi, meskipun secara tren mulai menunjukkan penurunan seiring meningkatnya penggunaan transaksi non-tunai,” terangnya.
Pada triwulan IV 2025, sambung dia, aliran uang masuk (inflow) ke Sulsel tercatat sebesar Rp2,94 triliun atau tumbuh 41,23% secara tahunan (yoy).
Namun, di sisi lain, aliran uang keluar (outflow) tercatat lebih besar, yakni mencapai Rp4,92 triliun atau meningkat 10,60% (yoy).
Dengan kondisi tersebut, aliran uang kartal di Sulsel pada periode ini mencatat net outflow sebesar Rp1,97 triliun.
Besarnya aliran keluar uang tunai ini mencerminkan kuatnya aktivitas ekonomi dan distribusi barang dari Sulsel ke berbagai daerah, khususnya di kawasan timur Indonesia.
Meski demikian, Bank Indonesia melihat adanya kecenderungan penurunan penggunaan uang tunai dalam jangka panjang, seiring dengan meningkatnya adopsi sistem pembayaran digital di masyarakat. (*)












