RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI meningkatkan edukasi kepada masyarakat terkait maraknya kejahatan siber, khususnya vishing, phishing, dan social engineering yang menyasar pengguna layanan digital seperti BNIdirect. Nasabah diminta lebih waspada dan tidak mudah membagikan data sensitif kepada pihak yang tidak dapat diverifikasi.
Corporate Secretary BNI, Okki Rushartomo mengatakan, perkembangan teknologi turut diikuti dengan semakin beragamnya modus penipuan yang menyasar masyarakat.
“Masyarakat perlu memahami berbagai modus penipuan tersebut agar dapat lebih waspada dan tidak mudah memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak bertanggung jawab,” ujarnya dalam keterangan tertulis, yang dikutip Upeks, Minggu (26/4/2026).
Ia menjelaskan, salah satu modus yang kerap terjadi adalah vishing atau voice phishing, yakni penipuan melalui telepon di mana pelaku mengaku sebagai petugas bank.
Pelaku biasanya menyebut identitas korban dan menciptakan situasi mendesak, seperti dugaan transaksi mencurigakan, untuk meminta data penting seperti ID perusahaan, ID pengguna, kata sandi, hingga kode token yang kemudian digunakan untuk mengakses akun tanpa izin.
Selain itu, modus phishing juga dilakukan melalui situs palsu yang menyerupai portal resmi perbankan. Korban diarahkan untuk memasukkan data sensitif yang kemudian disalahgunakan oleh pelaku.
Sementara social engineering dilakukan dengan teknik manipulasi psikologis, di mana pelaku menyamar sebagai petugas bank untuk memperoleh informasi rahasia seperti kode OTP, token, atau kata sandi. BNI menekankan pentingnya kewaspadaan dan verifikasi dalam setiap interaksi digital.
Nasabah diimbau hanya mengakses layanan melalui situs resmi seperti bnidirect.bni.co.id atau directbisnis.bni.co.id, serta menghindari tautan mencurigakan yang dikirim melalui pesan singkat, email, maupun aplikasi percakapan.
Selain itu, nasabah juga diminta tidak menyimpan kata sandi di perangkat, rutin mengganti password, serta tidak pernah membagikan kode OTP atau token kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengatasnamakan bank.
BNI juga mengingatkan masyarakat untuk selalu memeriksa informasi melalui kanal resmi perseroan guna memastikan keabsahan informasi yang diterima.
Melalui peningkatan literasi keamanan digital ini, BNI berharap masyarakat semakin memahami pola kejahatan siber dan mampu melindungi diri dari potensi kerugian finansial, sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap layanan perbankan digital. (*)












