RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Otoritas Jasa Keuangan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat (OJK Sulselbar) terus mendorong penguatan pengembangan ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan.
Melalui program Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Provinsi Sulawesi Selatan, salah satu komoditas yang dikembangkan yakni Kakao.
Kepala OJK Sulselbar, Moch Muchlasin, mengatakan, upaya tersebut diwujudkan melalui sinergi dengan sektor perbankan dan pelaku usaha, termasuk penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antara PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan PT Comextra Majora sebagai off taker komoditas kakao.
“Realisasi dari kerja sama ini telah mendorong penyaluran pembiayaan kepada 57 petani kakao dengan total nilai mencapai Rp14,05 miliar,” urai Muchlasin, kemarin.
Menurut Muchlasin, langkah ini menjadi bagian dari strategi memperkuat rantai pasok dan akses pembiayaan bagi petani, sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas kakao sebagai salah satu unggulan daerah di Sulsel.
Selain pengembangan kakao, OJK juga mencatat berbagai capaian program TPAKD lainnya, yang turut mendukung perluasan akses keuangan masyarakat.
Di antaranya digitalisasi transaksi melalui QRIS yang terus didorong. Berdasarkan data Bank Indonesia Provinsi Sulsel, jumlah merchant QRIS di Sulsel telah mencapai 1.319.115 merchant.
Di sektor pemberdayaan UMKM, program klasterisasi telah membentuk 1.611 klaster yang mencakup 22.275 debitur dengan total plafon kredit sebesar Rp644,46 miliar.
Sebagian besar penyaluran kredit tersebut, yakni 46,12%, terserap di sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan.
Sementara itu, program One Student One Account (OSOA) juga menunjukkan hasil signifikan dengan total 2.032.302 rekening pelajar yang berhasil dihimpun, dengan nominal mencapai Rp336,42 miliar, sebagai bagian dari upaya mendorong budaya menabung sejak dini.
Pada program Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI), OJK mencatat penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada 16 debitur UMKM dengan total pembiayaan Rp3,5 miliar, serta pembentukan enam agen Laku Pandai di setiap desa sasaran.
Program ini telah berjalan di lima desa pada 2025, masing-masing di Kabupaten Bone, Soppeng, Bulukumba, dan Enrekang.
Muchlasin menegaskan, berbagai inisiatif tersebut diharapkan mampu memperkuat inklusi keuangan, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang berkelanjutan, khususnya melalui pengembangan komoditas unggulan seperti kakao. (*)












