Mamin dan Tembakau Penyumbang Terbesar Inflasi di Sulsel

inflasi

RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan (yoy) di Provinsi Sulawesi Selatan pada April 2026 sebesar 2,68%, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 111,56.

Angka ini menunjukkan kondisi inflasi yang relatif terkendali di tengah dinamika harga sejumlah komoditas.

Kepala BPS Provinsi Sulawesi Selatan, Aryanto, menjelaskan, inflasi terjadi akibat kenaikan harga pada sebagian besar kelompok pengeluaran.

Bacaan Lainnya

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 4,41%, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 11,72%.

Selain itu, kenaikan juga terjadi pada kelompok pendidikan sebesar 1,09%, penyediaan makanan dan minuman/ restoran 2,34%, serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,58%.

“Tekanan inflasi secara tahunan masih didominasi oleh kelompok makanan serta perawatan pribadi, meskipun beberapa kelompok lain mengalami kenaikan yang relatif moderat,” papar Aryanto dalam konferensi pers via YouTube resmi BPS Sulsel, Senin (4/5/2026).

Secara spasial, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Sidenreng Rappang sebesar 3,94% dengan IHK 109,81, sementara inflasi terendah tercatat di Kota Parepare sebesar 2,18% dengan IHK 112,39.

Di sisi lain, beberapa kelompok pengeluaran justru mengalami deflasi, yakni kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,94% serta kelompok perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,14%.

Sementara secara bulanan (month to month/m-to-m), Sulawesi Selatan mengalami deflasi tipis sebesar 0,03% pada April 2026. Adapun inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) hingga April 2026 tercatat sebesar 2,09%.

Menurut Aryanto, kondisi ini mencerminkan stabilitas harga yang masih terjaga, meskipun tetap diperlukan kewaspadaan terhadap fluktuasi harga, khususnya pada komoditas pangan yang cenderung bergejolak. (*)

Pos terkait