IHK Agustus Terjaga, Harga Emas dan Pangan Pemicu

Emas dan pangan
ILUSTRASI/INT
banner 468x60

RUANGAKSELERASI.ID, JAKARTA — Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 tetap terjaga dalam sasaran Bank Indonesia (BI) sebesar 2,5 persen plus-minus 1 persen. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Agustus tercatat 0,21 persen secara bulanan (mtm). Sementara secara tahunan, inflasi mencapai 3,19 persen (yoy).

Bank Indonesia menilai terjaganya inflasi tersebut tidak lepas dari konsistensi kebijakan moneter serta kuatnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID).

Sinergi tersebut juga diperkuat dengan implementasi berbagai program ketahanan pangan nasional guna menjaga stabilitas pasokan dan harga komoditas strategis.

Bacaan Lainnya

“Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027,” demikian disampaikan BI dalam keterangan resminya, Selasa (1/9/2026).

Dari sisi komponennya, inflasi kelompok inti masih terjaga meski mengalami peningkatan. Pada Agustus 2026, inflasi inti tercatat 0,21 persen (mtm), naik dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,14 persen.

Kenaikan inflasi inti terutama dipengaruhi oleh komoditas emas perhiasan, seiring dengan meningkatnya harga emas global. Meski demikian, ekspektasi inflasi dinilai masih tetap terjaga.

Secara tahunan, inflasi inti mencapai 2,92 persen (yoy), meningkat dibandingkan Juli 2026 yang sebesar 2,76 persen.

Sementara itu, kelompok volatile food mengalami inflasi 0,88 persen (mtm) pada Agustus 2026. Angka tersebut berbalik dari bulan sebelumnya yang mencatat deflasi cukup dalam sebesar 1,68 persen.

Tekanan harga pangan terutama berasal dari daging ayam ras, cabai rawit, dan beras. Secara tahunan, inflasi volatile food mencapai 4,06 persen (yoy), meningkat dibandingkan Juli yang berada di level 2,52 persen.

Meski terjadi peningkatan tekanan harga pangan, BI memperkirakan inflasi volatile food tetap terkendali ke depan. Hal tersebut didukung sinergi pengendalian inflasi bersama TPIP dan TPID serta implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS).

Berbeda dengan kelompok pangan, kelompok administered prices justru mencatat deflasi. Pada Agustus 2026, kelompok harga yang diatur pemerintah mengalami deflasi 0,33 persen (mtm), berbalik dari Juli yang mengalami inflasi 0,25 persen.

Deflasi tersebut terutama berasal dari penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin. Kondisi ini sejalan dengan penurunan harga avtur serta harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax dan Pertamax Turbo.

Secara tahunan, inflasi administered prices tercatat 3,32 persen (yoy), turun dibandingkan bulan sebelumnya yang mencapai 3,58 persen.

BI menegaskan akan terus memperkuat bauran kebijakan moneter serta koordinasi dengan pemerintah pusat dan daerah untuk menjaga stabilitas harga. Upaya tersebut dinilai penting agar inflasi tetap berada dalam sasaran sekaligus mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.(*)

Pos terkait