RUANGAKSELERASI.ID, MAROS — Mesin politik Partai Golkar Sulawesi Selatan terus dipanaskan. Setelah menggelar konsolidasi di sejumlah daerah, Ketua DPD I Golkar Sulsel Ilham Arief Sirajuddin (IAS) kembali turun langsung ke Kabupaten Maros untuk memastikan soliditas organisasi sekaligus menggenjot target perolehan kursi legislatif pada Pemilu 2029.
Konsolidasi yang digelar di Gedung Golkar Maros, Selasa (25/8/2026), menjadi bagian dari langkah IAS memperkuat struktur partai di tingkat kabupaten. Sejumlah kader turut hadir, di antaranya anggota DPRD Sulsel Patarai Amir dan anggota AMPI Muetazim Mansyur.
Kunjungan IAS ke Maros juga menjadi momentum pembenahan internal setelah Ketua DPD II Golkar Maros Suhartina Bohari mengundurkan diri. IAS menegaskan, pergantian kepemimpinan tidak boleh membuat aktivitas organisasi terhenti. “Partai ini kan tidak boleh vakum,” tegas IAS.
Di balik agenda konsolidasi tersebut, terselip target politik yang cukup ambisius. IAS meminta Golkar Maros tidak sekadar mempertahankan enam kursi yang saat ini dimiliki di DPRD, tetapi mampu meningkatkan perolehan kursi hingga 50% pada Pemilu mendatang.
Target itu dinilai memiliki peluang karena jumlah kursi DPRD Maros bertambah dari 35 menjadi 40 kursi. Kondisi tersebut dipandang sebagai ruang baru bagi Golkar untuk memperbesar keterwakilan politiknya di parlemen daerah.
Target Maros tersebut sekaligus menjadi bagian dari agenda besar IAS setelah terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD I Golkar Sulsel periode 2026–2031. IAS sebelumnya telah menetapkan sasaran kenaikan kursi Golkar sebesar 50 persen di seluruh tingkatan legislatif pada Pemilu 2029.
Secara regional, target tersebut mencakup peningkatan kursi Golkar di DPR RI, DPRD Sulsel, hingga DPRD kabupaten/kota. Di tingkat DPRD Sulsel, IAS menargetkan kenaikan dari 14 menjadi 21 kursi. Sementara kursi DPRD kabupaten/kota yang saat ini sekitar 138 ditargetkan mendekati 200 kursi.
Karena itu, konsolidasi di Maros bukan sekadar agenda seremonial. IAS ingin memastikan mesin partai kembali bergerak hingga ke tingkat akar rumput, sekaligus membangun kader yang memiliki komitmen, elektabilitas, dan kemampuan mengelola organisasi.
IAS bahkan menyoroti aktivitas Golkar Maros yang dalam beberapa tahun terakhir dinilai mengalami penurunan. Ia menyebut kegiatan partai di Gedung Golkar Maros nyaris tidak berjalan selama hampir lima tahun.
Kini, kondisi tersebut ingin diubah. Konsolidasi menjadi pintu masuk untuk menghidupkan kembali aktivitas partai, memperkuat struktur hingga tingkat bawah, serta memastikan kader tidak hanya aktif menjelang momentum pemilu.
Bagi Golkar Sulsel, target tambahan 50% kursi bukan sekadar angka. Target tersebut menjadi ujian awal bagi kepemimpinan IAS untuk membuktikan apakah konsolidasi yang digencarkan di berbagai daerah mampu diterjemahkan menjadi kekuatan elektoral pada Pemilu 2029.
Dengan roadshow dan konsolidasi yang terus berlanjut, Golkar Sulsel tampaknya ingin mengirim pesan bahwa pertarungan politik 2029 sudah mulai dipersiapkan sejak sekarang.(*)














