Oleh : Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak.
—————————————————————
Dosen Program Studi S1 Akuntansi Universitas Negeri Makassar
PERNAHKAH Anda membayangkan apa jadinya jika sebuah perusahaan membuat laporan keuangan hanya berdasarkan kabar burung atau catatan yang dikarang? Hasilnya pasti kacau, uang bisa hilang, dan perusahaan tersebut terancam bangkrut.
Di era digital saat ini, kita sedang menghadapi masalah serupa yang disebut sebagai infodemi sebuah kondisi di mana informasi datang membanjir begitu derasnya hingga kita sulit membedakan mana fakta yang jujur dan mana kabar bohong yang dipoles sedemikian rupa.
Sebagai orang yang bergelut di bidang akuntansi, saya melihat bahwa membaca berita sebenarnya mirip dengan mengelola uang. Dalam akuntansi, ada aturan emas yang disebut “verifikasi”. Artinya, setiap angka yang tercatat tidak boleh dipercaya begitu saja sebelum ada bukti kuitansi atau nota yang sah.
Begitu juga dengan informasi di media sosial; jika sebuah berita tidak punya sumber yang jelas, maka ia ibarat transaksi palsu yang tidak boleh kita masukkan ke dalam pikiran, apalagi kita bagikan ke orang lain.
Kita semua perlu menjadi “auditor” bagi diri sendiri. Seorang auditor tidak skeptis karena benci, tetapi karena ingin memastikan kebenaran. Ketika menerima berita yang sangat emosional atau sensasional, cobalah gunakan pola pikir akuntan: periksa buktinya, lihat siapa yang mengeluarkannya, dan cari tahu apakah informasinya seimbang.
Jangan sampai kita menjadi konsumen yang pasif, yang langsung percaya hanya karena berita itu terlihat meyakinkan di permukaan. Jika data yang masuk ke kepala kita salah, maka cara kita bersikap dan mengambil keputusan pun pasti akan keliru.
Di sinilah pentingnya kita kembali menghargai sumber informasi yang terpercaya, seperti buku, jurnal, atau pusat literasi yang berfungsi sebagai penyaring kebenaran. Di tengah bisingnya media sosial, tempat-tempat ini adalah jaminan bahwa informasi yang kita terima sudah “diaudit” dan aman untuk dikonsumsi.
Memilih informasi yang benar adalah bentuk perlindungan diri agar kita tidak mudah diprovokasi atau terjebak dalam kebencian yang tidak perlu.
Pada akhirnya, literasi digital adalah tentang tanggung jawab.
Sama seperti kita berhati-hati dalam menjaga dompet dan pengeluaran, kita juga harus sangat hati-hati dalam menjaga apa yang kita baca dan sebar. Dengan mulai berpikir kritis dan selalu melakukan cek ulang, kita sebenarnya sedang berinvestasi untuk menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat dan cerdas bagi kita semua.(*)









