Oleh : Farhan Dwinanda Hanisyahputra, S.Ak., M.Ak.
—————————————————————
Dosen Program Studi S1 Akuntansi Universitas Negeri Makassar
SETIAP kali rumor kenaikan harga BBM mencuat ke permukaan, kita selalu disuguhi pemandangan yang sama: antrean kendaraan yang mengular di setiap sudut kota. Fenomena ini bukan sekadar upaya warga untuk menghemat beberapa puluh ribu rupiah, melainkan sebuah respons psikologis yang jauh lebih dalam terkait dengan insting bertahan hidup.
Dalam benak kolektif masyarakat, BBM bukan sekadar komoditas energi, melainkan simbol stabilitas ekonomi. Ketika harga komoditas kunci ini digoyang, terjadi guncangan pada rasa aman masyarakat. Panic buying yang terjadi kemudian adalah bentuk mekanisme pertahanan diri untuk mengamankan sumber daya sebelum “badai” harga benar-benar tiba.
Dalam kondisi ini, logika ekonomi jangka panjang sering kali kalah oleh dorongan emosional untuk mendapatkan kepastian sesaat di tengah ketidakpastian yang masif.
Ketidakpastian pasar yang menyusul kemudian sebenarnya digerakkan oleh apa yang disebut sebagai nubuat yang terpenuhi dengan sendirinya atau self-fulfilling prophecy.
Ketika semua orang meyakini bahwa harga kebutuhan pokok akan melonjak akibat kenaikan BBM, maka ekspektasi inflasi tersebut justru benar-benar menciptakan inflasi itu sendiri.
Para pelaku usaha, mulai dari pedagang pasar hingga distributor besar, cenderung menaikkan harga sebagai antisipasi terhadap kenaikan biaya logistik di masa depan. Ketidakpastian ini menciptakan lingkaran setan; masyarakat yang panik mulai menimbun barang, sementara penjual menaikkan harga karena takut modal mereka tidak cukup untuk kulakan berikutnya. Pasar akhirnya bergerak bukan atas dasar hukum permintaan dan penawaran yang sehat, melainkan atas dasar ketakutan kolektif yang sulit dikendalikan.
Masalah psikologi harga ini diperparah oleh pola komunikasi kebijakan yang sering kali mendadak atau kurang transparan. Ketidakpastian pasar akan semakin liar jika masyarakat merasa tidak memiliki pegangan terhadap informasi yang akurat.
Kepanikan massa adalah indikator bahwa ada jarak kepercayaan antara pengambil kebijakan dan warga. Selama BBM masih dianggap sebagai penentu utama nasib ekonomi rumah tangga, setiap pergeseran harga akan selalu dianggap sebagai ancaman eksistensial.
Oleh karena itu, stabilitas pasar pasca-kenaikan BBM tidak hanya membutuhkan intervensi harga atau operasi pasar, tetapi juga manajemen persepsi yang mampu meyakinkan publik bahwa negara memiliki kendali penuh atas ketersediaan barang dan stabilitas harga pangan. Tanpa kepercayaan, pasar akan tetap menjadi ruang bagi kecemasan yang sewaktu-waktu bisa meledak menjadi gejolak sosial.(*)










