RUANGAKSELERASI.ID, MAKASSAR — Minat masyarakat Indonesia untuk menunaikan ibadah haji tetap tinggi meski ketegangan geopolitik dunia tengah meningkat. Hal itu tercermin dari pertumbuhan positif tabungan haji di perbankan syariah pada awal tahun 2026.
Data terbaru dari Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menunjukkan dana haji yang terkumpul telah mencapai Rp180,72 triliun per awal April 2026, seperti dilansir dari Keuangan. Sejumlah bank syariah pun mencatat pertumbuhan positif layanan tabungan haji di awal tahun ini yang menandakan bahwa kondisi geopolitik global yang dinamis tidak terlalu memengaruhi niat calon jemaah.
Antrean haji yang panjang di Indonesia menjadi salah satu faktor pendorong masyarakat untuk mulai menabung sedini mungkin. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) menjadi pemimpin pasar dengan jumlah tabungan haji mencapai Rp15,47 triliun per Februari 2026, mencatatkan kenaikan 10,98% secara tahunan.
Bank BSI melayani lebih dari 7,1 juta rekening haji dan menguasai lebih dari 83% pangsa pasar jemaah haji reguler tunggu di Indonesia. Begitu juga dengan PT Bank Muamalat Tbk (Bank Muamalat), yang tetap mencatat pertumbuhan positif di tengah kondisi global yang memanas.
Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar, menjelaskan bahwa perseroan berkomitmen untuk terus mendorong inklusi tabungan haji di berbagai kalangan. Upaya ini sejalan dengan dukungan terhadap pemerintah dalam menyukseskan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini.
Pertumbuhan tabungan haji juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) BSI. Per Februari 2026, DPK BSI tercatat sebesar Rp 366 triliun, tumbuh 14,76% (yoy). Tabungan haji menempati porsi terbesar ketiga dari total tabungan BSI.
Sekretaris Perusahaan Bank Muamalat, Hayunaji, menyebut banknya saat ini melayani sekitar 700 ribu jemaah haji tunggu, dengan pangsa pasar 59% untuk jemaah haji khusus dan 13% untuk jemaah haji reguler. “Nasabah menganggap kondisi saat ini tidak terlalu berpengaruh pada niat dan keinginan mereka untuk menabung dalam rangka mendaftar haji,” ujar Hayunaji, Senin (6/4/2026).
Direktur Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) Sutan Emir Hidayat menilai, konflik dunia saat ini belum berdampak langsung terhadap pertumbuhan tabungan haji. Ia menyebut potensi pertumbuhan tabungan haji bank syariah masih sangat besar.
Emir memproyeksikan layanan tabungan haji bank syariah akan semakin inovatif, termasuk kemungkinan fitur yang terintegrasi langsung dengan sistem pendaftaran haji di Kementerian Haji.“Ini tentu akan menambah minat masyarakat untuk menabung haji di bank syariah,” katanya.
Selain itu, Emir menilai bank syariah ke depan akan lebih agresif mendorong pertumbuhan tabungan, terutama dengan antrean haji yang semakin panjang. Fokus bank kemungkinan akan menyasar calon jemaah muda dan generasi pekerja awal.
Kendati konflik geopolitik cenderung memengaruhi ekonomi makro, seperti pelemahan daya beli dan guncangan kurs, Emir menekankan sejarah menunjukkan bahwa niat menabung haji tetap bertahan selama kemampuan ekonomi rumah tangga relatif terjaga dan kepastian penyelenggaraan haji ada.
“Dengan karakter masyarakat Indonesia yang religius dan menjadikan haji sebagai cita-cita hidup, tren pertumbuhan tabungan haji di bank syariah diperkirakan tetap positif,” ujar Emir. Dia menambahkan, kunci keberhasilan adalah memastikan pengelolaan tabungan haji tetap aman dan berbasis syariah.(*)












