Kemenperin Dorong IKM Logam Produksi Alat Sembelih Berstandar SNI

RPH
FOTO: INT//Rumah Potong Hewan
banner 468x60

RUANGAKSELERASI.ID, JAKARTA — Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mendorong industri kecil dan menengah (IKM) logam meningkatkan kualitas produksi alat sembelih guna mendukung kesejahteraan hewan sekaligus menjaga mutu daging yang dihasilkan.

Plt. Direktur IKM Logam, Mesin, Elektronika, dan Alat Angkut (LMEA) Kemenperin, Budi Setiawan, menegaskan kualitas alat sembelih menjadi salah satu faktor penting dalam proses penyembelihan hewan. Meski bentuknya relatif sederhana, alat tersebut memiliki fungsi strategis terhadap proses penyembelihan dan kualitas hasilnya.

“Kualitas produk alat sembelih merupakan aspek yang sangat vital dalam kegiatan penyembelihan hewan. Meskipun alat tersebut terlihat sederhana, sebenarnya memiliki peran krusial dalam menjaga kesejahteraan hewan dan mutu daging yang dihasilkan,” ujar Budi.

Bacaan Lainnya

Menurutnya, pemahaman para peternak dan praktisi penyembelihan terhadap pentingnya kualitas alat juga terus meningkat. Hasil penyembelihan tidak hanya ditentukan oleh keterampilan petugas, tetapi turut dipengaruhi oleh kualitas serta ketepatan spesifikasi alat yang digunakan.

Karena itu, Kemenperin memberikan pendampingan kepada IKM logam agar mampu menghasilkan pisau dan bilah sembelih yang sesuai dengan kebutuhan pengguna sekaligus memenuhi standar teknis nasional.

Upaya tersebut diarahkan pada penerapan SNI 9402-2025 Bilah Sembelih sebagai acuan dalam pengembangan dan produksi alat sembelih. Penerapan standar dinilai penting untuk memastikan kualitas, konsistensi, keamanan, serta meningkatkan daya saing produk IKM dalam negeri.

“Pendampingan ini difokuskan agar pelaku IKM logam mampu memproduksi pisau dan bilah sembelih yang memenuhi standar teknis nasional,” katanya.

Kemenperin berharap peningkatan kemampuan produksi dan penerapan standar tersebut dapat memberikan lebih banyak pilihan bagi Rumah Potong Hewan (RPH) maupun Tempat Pemotongan Hewan (TPH) dalam memperoleh alat sembelih produksi dalam negeri.

Tidak hanya sebagai pengguna, RPH dan TPH juga didorong membangun kemitraan secara langsung dengan produsen IKM logam lokal. Pola kemitraan tersebut diharapkan menciptakan hubungan usaha yang berkelanjutan sekaligus membuka peluang pasar baru bagi IKM.

“Dengan demikian, pihak pengguna seperti RPH maupun TPH memiliki akses langsung untuk bermitra dengan IKM logam lokal dalam penyediaan alat sembelih dan alat pemrosesan pascasembelih,” jelas Budi.

Menurut Budi, penguatan ekosistem industri tersebut membutuhkan sinergi berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, asosiasi, pelaku IKM, hingga RPH dan TPH.

Kolaborasi tersebut dinilai tidak hanya mampu memperluas pasar produk alat sembelih dalam negeri, tetapi juga meningkatkan kapasitas produksi, memperkuat daya saing, serta mendorong IKM logam naik kelas.

“Sinergi bersama pemerintah daerah, asosiasi, dan RPH ini diharapkan dapat memperluas pasar sekaligus mengoptimalkan IKM logam untuk terus berkembang dan naik kelas,” tutup Budi.(*)

Pos terkait