Efektivitas WFH Dosen: Mengukur Output Penelitian vs Kehadiran Fisik di Kampus

AYU
Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.

Oleh: Dwi Ayu Siti Hartinah H., S.E., AK., M.Ak.
———————————————————-
Dosen Akuntansi, Universitas Negeri Makassar

WACANA mengenai kebijakan Work From Home setiap hari Jumat bagi dosen merupakan respons logis terhadap transformasi dunia akademik di era digital. Kebijakan ini tidak seharusnya dipandang sebagai upaya pengurangan jam kerja, melainkan sebagai strategi redistribusi energi profesional untuk mencapai hasil yang lebih substansial.

Dalam ekosistem perguruan tinggi modern, produktivitas seorang akademisi tidak lagi relevan jika hanya diukur melalui durasi kehadiran fisik di meja kantor, melainkan harus ditakar dari kualitas luaran yang dihasilkan, terutama dalam aspek penelitian dan publikasi ilmiah.

Bacaan Lainnya

Beban kerja dosen yang mencakup pengajaran, penelitian, dan pengabdian seringkali terfragmentasi oleh urusan administratif yang bersifat rutin saat berada di kampus. Kehadiran fisik yang terus-menerus sering kali menciptakan distraksi yang menghambat proses berpikir mendalam atau deep work.

Dengan mengalokasikan satu hari kerja di rumah, dosen mendapatkan ruang tenang yang esensial untuk membedah data penelitian yang kompleks, menyusun manuskrip jurnal internasional, hingga melakukan telaah literatur tanpa interupsi. Hal ini secara langsung menjawab tantangan global di mana performa universitas kini sangat bergantung pada sitasi dan publikasi, bukan pada penuhnya ruang kerja dosen.

Namun, keberhasilan model kerja fleksibel ini menuntut perubahan mendasar pada sistem pengawasan institusi. Paradigma manajemen harus bergeser dari pengawasan berbasis proses dan presensi menuju pengawasan berbasis hasil atau output.

Jika instrumen evaluasi kinerja mampu memantau progres penelitian secara berkala, maka kekhawatiran akan penurunan disiplin dapat diminimalisir. Teknologi informasi telah menyediakan infrastruktur yang memadai untuk memastikan bimbingan mahasiswa dan koordinasi antarjawat tetap berjalan efektif meski tanpa tatap muka secara langsung.

Pada akhirnya, efektivitas WFH bagi dosen adalah tentang membangun budaya kepercayaan dan profesionalisme. Memberikan fleksibilitas pada hari Jumat adalah bentuk pengakuan bahwa karya ilmiah berkualitas lahir dari lingkungan kerja yang mendukung kesehatan mental dan fokus intelektual.

Institusi yang berani mengedepankan capaian riset di atas sekadar absensi fisik akan lebih siap bersaing di tingkat global, karena mereka mengutamakan esensi pengabdian intelektual dibandingkan sekadar formalitas birokrasi. Kebijakan ini adalah investasi jangka panjang untuk menciptakan akademisi yang lebih produktif, inovatif, dan berdaya saing tinggi.(*)

Pos terkait